Berita Padang Hari Ini
Hujan Guyur Kota Padang, Petak Sawah yang Sempat Kering Kembali Digenangi Air
Kepala Dinas Pertanian Kota Padang, Syahrial Kamat mengemukakan petak sawah warga saat ini telah terisi air menyusul hujan yang tu
Penulis: Rezi Azwar | Editor: Emil Mahmud
Laporan Wartawan TribunPadang.com, Rezi Azwar
TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Kepala Dinas Pertanian Kota Padang, Syahrial Kamat mengemukakan petak sawah warga saat ini telah terisi air menyusul hujan yang turun mengguyur Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).
Sebelumnya, kata Syahrial Kamat kondisi sawah sempat mengering kemudian berubah basah dan berair berkat hujan yang turun, Jumat (26/2/2021).
Beruntungnya, sampai saat ini belum ada laporan masyarakat yang gagal panen akibat kekeringan
"Kondisi sawah di Kecamatan Bungus Teluk Kabung sudah mulai digenangi air," kata Syahrial Kamat, Jumat (26/2/2021).
Sebelumnya, Syahrial Kamat mengatakan ada 8 Kelurahan yang mengalami kekeringan di Kota Padang, Sumbar.
Baca juga: Hujan Guyur Kota Padang, BPBD Berharap Dapat Atasi Kekeringan, tapi Waspada Longsor
Sejauh ini, lanjutnya, musim kemarau panjang terjadi wilayah Kota Padang, Sumbar, sehingga membuat beberapa kawasan kekeringan.
"Rekap lahan sawah yang mengalami kekeringan ada 8 kelurahan di Kota Padang, Sumbar," kata Syahrial Kamat, Jumat (19/2/2021).
Disebutkannya, lokasi tersebut bwrada di Kelurahan Bungus Barat, Bungus Selatan, dan Teluk Kabung Utara.
Selain itu, imbuhnya Teluk Kabung Selatan, Teluk Kabung Tengah, Bungus Timur, Tabing Banda Gadang, dan Koto Lalang.
"Untuk lokasi yang paling luas berlokasi di Bungus Barat, Kecematan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, Sumbar," kata Syahrial Kamat.
Syahrial Kamat mengatakan, bagi masyarakat yang memiliki lahan pertanian yang belum ditanami padi disarankan untuk menanam palawija.
Baca juga: BPBD Padang Mulai Hentikan Distribusikan Air Bersih, Setelah Hujan Mengguyur Ibu Kota Sumbar
Baca juga: Angin Kencang Terjang Atap Rumah Warga Padang, BPBD: Pohon Tumbang Tutup Akses Jalan
"Palawija seperti jagung, kacang tanah, kacang panjang, dan tanaman lainnya yang tidak membutuhkan banyak air," kata Syahrial Kamat.
Selain itu, solusi lainnya dapat menaikkan air ke sawah dari sungai menggunakan mesin pompa.
"Kami sudah membahlgikan pompa ke kelompok-kelompok tani, sudah ada sekitar 50 pompa ke kelompom tani sejak tahun lalu," kata Syahrial Kamat.
Syahrial Kamat menyebutkan, masyarakat tinggal mengumpulkan uang sesama petani untuk membeli BBM mesin pompa.
"Bagi kelompok yang belum mendapat pompa air bisa meminjam ke kelompok tani lainnya," ujar Syahrial Kamat.
.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/disperta-sawah.jpg)