Travel

PESTA BUDAYA - Tabuik Jadi Magnet Bagi Wisatawan Sambangi Kota Pariaman, Sumatera Barat

Pesta Budaya Tabuik di Kota Pariaman, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) hingga kini masih berlangsung semenjak 1 hingga 15 September mendatang.

Penulis: Emil Mahmud | Editor: Emil Mahmud
ISTIMEWA/DOK.DISKOMINFO PARIAMAN
Ilustrasi: Dua Tabuik, yaitu Tabuik Psa dan Tabuik Subarang berdiri megah di pinggir Pantai Gandoriah, dan disaksikan ratusan ribu pengunjung dan masyarakat pada ivent Tabuik Pariaman yang dilaksanakan di bulan Muharram setiap tahunya 

TRIBUNPADANG.COM, PARIAMAN - Pesta Budaya Tabuik di Kota Pariaman, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar)  hingga kini masih berlangsung semenjak 1 hingga 15 September mendatang.

Sebelumnya, tahapan pertama, prosesi 'maambiak tanah' berlangsung di Tabuik Subarang dan Tabuik.

Aktivitas pengambilan tanah tersebut dilakukan pada sore hari tanggal 1 Muharram, yang pada kesempatan tahun 2019 ini bertepatan dengan 1 September 2019.

Hal itu dikemukakan Plt Dinas komunikasi dan informasi (Diskominfo) Kota Pariaman, Hendri menjawab TribunPadang.com, Kamis (5/9/2019).

TRAVEL - Tips Perjalanan Wisata dari Kota Padang Menuju Kota Sawahlunto, Satu Objek Warisan Dunia

Wakil Gubernur Nasrul Abit Berharap Sawahlunto Bisa Dongkrak Wisatawan ke Sumbar

Yuk! Pertahankan Warisan Dunia Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto

Menurut Hendri, prosesi dilakukan dengan suatu arak-arakan yang dimeriahkan dengan gandang tambua dan gandang tasa.

"Mengambil tanah dilaksanakan oleh dua kelompok Tabuik, yaitu kelompok Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang.

Masing-masing kelompok mengambil tanah pada tempat (anak sungai) yang berbeda dan berlawanan arah. Pengambilan dilakukan di sungai yang berbeda," ujar Hendri.

Sementara itu, Tabuik Pasa mengambil tanah di sungai kecil di Kelurahan Alai Gelombang.

Sedangkan, Tabuik Subarang mengambil tanah di sungai Batang Piaman di Desa Pauh Kecamatan Pariaman Tengah.

"Ritual pembuatan tabuik dimulai dengan pengambilan tanah dari sungai pada tanggal 1 Muharram," papar Hendri.

Lanjut, tanah tersebut diletakkan dalam periuk tanah dan dibungkus dengan kain putih, kemudian disimpan dalam daraga yang terdapat di halaman rumah tabuik.

"Daraga adalah tempat berukuran 3x3 meter yang dipagari dengan parupuk, sejenis bambu kecil. Tanah yang dibungkus dengan kain putih adalah perumpamaan kuburan Husain," jelas Hendri.

Sejauh ini, lanjutnya tempat tersebut juga diatapi dengan kain putih berbentuk kubah.

"Tanah tersebut akan dibiarkan di sana sampai dimasukkan ke dalam tabuik pada tanggal Muharram," ujar Hendri.

Hendri menjelaskan tahapan selanjutnya manabang batang pisang yang dilaksanakan pada Kamis (5/9/2019) hari ini.

Menurutnya, tahapan ini juga sangat ditunggu-tunggu wisatawan dalam proses pembuatan tabuik.

"Untuk acara puncak Tabuik itu sendiri, akan berlangsung pada 15 September 2019, dimana Pemko Pariaman sudah mengundang Menteri Pariwisata RI Arief Yahya serta sejumlah menteri lainnya,"ujar Hendri.

Wisata Taman Anas Malik Pantai Cermin Kota Pariaman, Bersantai Menggunakan Balon dan Hammock

Pesta budaya tabuik Pariaman yang sudah menjadi iven tahunan ini diharapkan bakal makin meningkatkan kunjungan wisata di Kota Pariaman.

"Tabuik Pariaman merupakan magnet bagi wisatawan untuk berkunjung ke Kota Pariaman, selain ajang pulang kampung bagi warga pariaman di perantauan, untuk melihat kemeriahan Tabuik ini", tukasnya.

Pada saat iven puncak nanti juga dilaksanakan launching Ivent Nasional lainnya di Kota Pariaman mulai dari Grand Star TDS, Triathlon, Lari 10 K, Lomba berenang ke Pulau serta penandatanganan sejumlah iven lainnya.

Sejarah dan Asal Muasal Tabuik

Makam Syekh Burhanuddin di kawasan Masjid Syekh Burhanuddin, Ulakan, Padang Pariaman, Sumbar, Senin (12/8/2019).
Ilustrasi: Makam Syekh Burhanuddin di kawasan Masjid Syekh Burhanuddin, Ulakan, Padang Pariaman, Sumbar, Senin (12/8/2019). (TRIBUNPADANG.COM/DEBI GUNAWAN)

Dikutip dari Wikipedia, Tabuik merupakan permainan yang berkembang didaerah Pesisir, khususnya Pariaman yang diselenggarakan setiap tahun.

Permainan ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu diperkirakan telah ada semenjak abad ke- 19 M.

Permainan tabuik merupakan permainan yang menjadi bagian dari wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW. Yaitu Haussein Bin Ali yang jatuh pada tanggal 10 Muharram.

Sejarah mencatat bahwa Hussein besertak eluarganya wafat dalam perang di Padang Karbala.

Tabuik sendiri diambil dari bahasa arab "tabut" yang bermakna peti kayu, nama tersebut mengacu pada legenda tentang bermunculnya makhluk berwujud kuda bersayap dan berkepala manusia yang disebut Buroq.

Legenda tersebut mengisahkan bahwa setelah wafatnya sang cucu Nabi, kotak kayu berisis potongan jenazah Hussein diterbangkan ke langit oleh Buroq.

Bedasarkan legenda inilah, setiap tahun,masyarakat Pariaman membuat tiruan dari Buroq yang sedang mengusung tabut dipunggungnya.

Menurut kisah yang diterima masyarakat secara turun temurun, ritual ini muncul di Pariaman sekitar Tahun 1826 - 1828 M.

Pada 1910, muncul kesepakatan antar nagari untuk menyesuaikan perayaan Tabuik dengan adat istiadat Minangkabau, sehingga berkembang menjadi seperti saat ini.

Tabuik terdiri dari 2 macam yaitu; Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang, keduanya bersala dari wilayah yang berbeda di kota Pariaman, Tabuik pasa merupakan wilayah yang berada di sisi selatan dari sungai yang memebelah kota tersebut hinggan ketepian Gondariah.

Wilayah pasa dianggap sebagai asal muasal tradisi tabuik. Adapun Tabuik Subarang berasal dari daerah subarang, yaitu wilayah di sisi utara dari sungai atau daerah yang disebut kamoung Jawa.

Rangkaian tradisi dipariaman terdiri dari tujuh tahapan ritual tabuik, yaitu mengambil tanah, menebang batang pisang, mataam, mengarak jari - jari, mengarak sorban, tabuik naiak pangkek, hoyak tabuik dan membuang tabuik kaluik.

Prosesi mengambil tanahnya dilaksanakan pada tanggal 1 Muharram, menebang batang pisang pada hari kelima Muharram, mataam pada hari ketujuh, dilanjutkan dengan mengarak jari-jari pada malam harinya.

Keesokan harinya akan dilanjutkan denan mengarak sorban. Setiap tahunnya perayaan Tabuik akan menjadi pusat perhatian oleh masyarakat lokal serta meluas hingga manca negara.(*)

*) Tulisan ini diulas dari beberapa artikel dan dikutip dari wikipedia serta sumber lainnya, termasuk wawancara nara sumber terkait.

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved