Masjid Raya Taluak Bayua Jadi Saksi Pertempuran Santri Melawan Kompeni Belanda

Hingga kini, sebuah masjid memiliki tiga kubah berdiri di Kawasan Pelabuhan Teluk Bayur, Kecamatan Padang Selatan, Kota Pa

Tayang:
Penulis: Rizka Desri Yusfita | Editor: Emil Mahmud
TribunPadang.com /Rizka Desri Yusfita
Bagian depan Masjid Taluak Bayua yang terletak di Kawasan Pelabuhan Teluk Bayur, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang Sumatera Barat (Sumbar) 

Masjid Raya Taluak Bayua Pernah Jadi Saksi Pertempuran Santri dan Kompeni Belanda

Laporan Wartawan TribunPadang.com, Rizka Desri Yusfita

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Hingga kini, sebuah masjid memiliki tiga kubah berdiri di Kawasan Pelabuhan Teluk Bayur, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang Sumatera Barat (Sumbar).

Rumah ibadah Ummat Islam itu berada dalam areal yang relatif sempit, serta diapit perumahan warga.

Namun begitu, para jamaah masjid tetap berdatangan ke rumah ibadah yang  bernama; Masjid Raya Taluak Bayua.

Pantauan TribunPadang.com, tampak di sisi kiri dan kanan atap masjid bergonjong berbentuk runcing khas Minangkabau.

Begitu masuk ke dalamnya, suasana sejuk akan langsung terasa, mulai dari lantai sampai ke langit langit masjid.

Pintu masjid dibuat tertutup agar AC yang dingin terus berembus hingga ke sudut-sudut area masjid.

Di dalam masjid terdapat lorong-lorong yang sengaja dibuat khusus agar jamaah merasa salat di Masjidil Haram.

Kemudian sisi kiri dan kanan masjid dibuat sebuah ruangan memanjang yang dikhususkan untuk Taman Pendidikan Alqur'an.

TRIBUNWIKI : 4 Masjid dan Surau Tua Bersejarah di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat

Dalam buku Masjid Masjid Bersejarah di Indonesia karya Abdul Baqir Zein (1999: 67-69), Masjid Taluak Bayua diceritakan pernah menjadi saksi pertempuran.

Masjid Taluak Bayua dibangun pada tahun 1600 M oleh saudagar bangsa Arab yang juga seorang Dai bernama Abdullah.

Masjid Raya Ikur Koto Awalnya Bernama, Surau Batu Ikur Koto

Namun, saat Belanda berkuasa dilakukan perluasan Teluk Bayur sehingga lokasi masjid akhirnya dipindahkan ke Kaki Bukit Air Manis.

Pengurus Masjid Taluak Bayua, Yasmida mengatakan masjid awalnya bernama Surau Ateh. Kemudian atas kesepakatan masyarakat berganti menjadi Masjid Raya Taluak Bayua.

"Mulanya dinding masjid terbuat dari kayu, sedangkan atapnya dari daun pua. Sebelum memasuki masjid, jalan dibuat berjenjang jenjang. Di sekeliling masjid ada kolam ikan. Sekarang kolam ikan tersebut sudah direnovasi dan dijadikan tempat berwudu," jelas Yasmida.

Nama lain dari Masjid Raya Teluk Bayua adalah Masjid Teluk Air Mata.

"Menurut cerita, masjid didirikan dengan susah payah. Dana yang digunakan tidak mencukupi hingga membuat masyarakat menggalang dana sampai mengeluarkan air mata," sambung Yasmida.

Lain halnya, menurut Abdul Baqir Zein setelah Teluk Bayur diperluas menjadi pelabuhan bongkar muat oleh Pemerintah Hindia Belanda pada 1888.

Utamanya, semua aktivitas perdagangan dan transportasi laut berlangsung di Pelabuhan Teluk Bayur, termasuk bagi para calon haji yang akan menunaikan ibadah haji ke tanah suci.

Pada setiap musim haji, Pelabuhan Teluk Bayur berubah menjadi lautan manusia yang akan mengantar dan menjemput jamaah haji.

Mereka mengantar dan menjemput kerabatnya dengan air mata. Banyak di antara jemaah haji yang tidak kembali lagi ke kampung halaman karena dijemput ajal di Tanah Suci.

Dari situlah masjid bernama Masjid Teluk Air Mata.

Pada Tahun 1911 dilakukan pemugaran. Dinding masjid diganti dengan batu karang dan menggunakan semen dari pabrik semen Indarung.

Di dalam buku Abdul Baqir Zein juga ditulis bahwa Masjid Teluk Bayur bersejarah. Sebagai masjid tua, Masjid Raya Teluk Bayur menyimpan banyak peristiwa bersejarah.

Salah satunya adalah terjadinya pertempuran antara santri pengikut saudagar Abdullah dan pihak kompeni yang berniat akan menguasai daerah Teluk Bayur pada tahun 1696.

Dan menurut cerita orang orang tua, saudagar Abdullah bersama santri santrinya akhirnya dibunuh oleh Kompeni Belanda.

Yasmida yang sudah 45 tahun menjadi pengurus masjid mengatakan pada tahun 1965 bertepatan dengan Gerakan 30 September (Gestapu), masyarakat sipil pernah dilarang melakukan salat di Masjid Raya Taluak Bayua.

"Tidak begitu jelas alasannya. Yang saya tahu masyarakat tidak boleh melaksanakan salat tarawih 23 rakaat dan tidak boleh membaca basmalah," kata Yasmida.

Saat itu, lanjut Yasmida, mereka mengambil tikar-tikar di masjid untuk dibawa ke lapangan. Hingga tak ada tikar lagi yang bisa dijadikan sajadah.

Namun, hal tersebut tidak mengurangi keinginan masyarakat untuk melaksanakan ibadah di Masjid Raya Taluak Bayua.

Bedug di Masjid Raya Taluak Bayua
Bedug di Masjid Raya Taluak Bayua (TribunPadang.com /Rizka Desri Yusfita)

Sehari-hari, kata Yasmida, di Masjid Raya Taluak Bayua rutin diadakan salat lima waktu berjamaah. Jika bulan Ramadan, juga rutin salat tarawih dan pesantren ramadan.

"Masjid Raya Taluak Bayua dalam pelaksanaan salat dipimpin seorang imam yang berganti setiap waktu. Kalau berbuka sekaligus sahur, imam dibawakan lima rantang nasi yang dimintakan kepada setiap warga," tambah Yasmida.

Pelaksanaan salat tarawih di Masjid Raya Taluak Bayua terdiri atas 23 rakaat, yang rincian dua rakaat satu salam. Sementara, pesantren Ramadan berlangsung pada siang harinya.

Kegiatan lainnya yang diselenggarakan di Masjid Raya Taluak Bayua yakni wirid remaja dan majelis taklim.

"Rencananya juga akan ada salat tasbih tiap malam jumat. Kemudian pengurus masjid berencana akan membuat rumah tahfiz," tutup Yasmida. (*)

Sumber: Tribun Padang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved