Masjid Raya Taluak Bayua Jadi Saksi Pertempuran Santri Melawan Kompeni Belanda
Hingga kini, sebuah masjid memiliki tiga kubah berdiri di Kawasan Pelabuhan Teluk Bayur, Kecamatan Padang Selatan, Kota Pa
Penulis: Rizka Desri Yusfita | Editor: Emil Mahmud
Nama lain dari Masjid Raya Teluk Bayua adalah Masjid Teluk Air Mata.
"Menurut cerita, masjid didirikan dengan susah payah. Dana yang digunakan tidak mencukupi hingga membuat masyarakat menggalang dana sampai mengeluarkan air mata," sambung Yasmida.
Lain halnya, menurut Abdul Baqir Zein setelah Teluk Bayur diperluas menjadi pelabuhan bongkar muat oleh Pemerintah Hindia Belanda pada 1888.
Utamanya, semua aktivitas perdagangan dan transportasi laut berlangsung di Pelabuhan Teluk Bayur, termasuk bagi para calon haji yang akan menunaikan ibadah haji ke tanah suci.
Pada setiap musim haji, Pelabuhan Teluk Bayur berubah menjadi lautan manusia yang akan mengantar dan menjemput jamaah haji.
Mereka mengantar dan menjemput kerabatnya dengan air mata. Banyak di antara jemaah haji yang tidak kembali lagi ke kampung halaman karena dijemput ajal di Tanah Suci.
Dari situlah masjid bernama Masjid Teluk Air Mata.
Pada Tahun 1911 dilakukan pemugaran. Dinding masjid diganti dengan batu karang dan menggunakan semen dari pabrik semen Indarung.
Di dalam buku Abdul Baqir Zein juga ditulis bahwa Masjid Teluk Bayur bersejarah. Sebagai masjid tua, Masjid Raya Teluk Bayur menyimpan banyak peristiwa bersejarah.
Salah satunya adalah terjadinya pertempuran antara santri pengikut saudagar Abdullah dan pihak kompeni yang berniat akan menguasai daerah Teluk Bayur pada tahun 1696.
Dan menurut cerita orang orang tua, saudagar Abdullah bersama santri santrinya akhirnya dibunuh oleh Kompeni Belanda.
Yasmida yang sudah 45 tahun menjadi pengurus masjid mengatakan pada tahun 1965 bertepatan dengan Gerakan 30 September (Gestapu), masyarakat sipil pernah dilarang melakukan salat di Masjid Raya Taluak Bayua.
"Tidak begitu jelas alasannya. Yang saya tahu masyarakat tidak boleh melaksanakan salat tarawih 23 rakaat dan tidak boleh membaca basmalah," kata Yasmida.
Saat itu, lanjut Yasmida, mereka mengambil tikar-tikar di masjid untuk dibawa ke lapangan. Hingga tak ada tikar lagi yang bisa dijadikan sajadah.
Namun, hal tersebut tidak mengurangi keinginan masyarakat untuk melaksanakan ibadah di Masjid Raya Taluak Bayua.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/airmato-masjid.jpg)