Museum Rumah Bung Hatta, Menyusuri Jejak Sejarah Sang Pahlawan Proklamator

Siapa yang tak kenal dengan Bung Hatta. Lahir dengan nama Mohammad Athar yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat

Penulis: Merinda Faradianti | Editor: Emil Mahmud
TribunPadang.com/Merinda Faradianti
Rumah keluarga Bung Hatta, semasa kecilnya yang berlokasi di Jalan Soekarno Hatta No 37 Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) 

Laporan Wartawan Tribunpadang.com, Merinda Faradianti

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Siapa yang tak kenal dengan Bung Hatta. Lahir dengan nama Mohammad Athar yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar) pada 1902 silam.

Di Jalan Soekarno Hatta No 37 Bukittinggi, Sumbar berdiri sebuah rumah yang dulunya adalah rumah lahirnya Sang Pahlawan Proklamator tersebut.

Rumah kelahiran tersebut sekarang dijadikan Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta yang dijadikan destinasi wisata sejarah yang ada di Bukittinggi.

Amzal sebagai juru pelihara Museum Kelahiran Bung Hatta mengatakan bahwa Bung Hatta pernah tinggal dirumah tersebut dari tahun 1902 hingga 1913.

"Beliau lahir di rumah ini, dan tinggal di sini hingga umur 12 tahun atau tamat Sekolah Rakyat (SD sekarang)," kata Amzal kepada Tribunpadang.com, Minggu (28/4/2019).

Memasuki Rumah Kelahiran Bung Hatta terlihat sebuah ruangan yang dulunya adalah ruangan favorit Bung Hatta untuk membaca buku.

"Kita sama-sama tahu kalau Bapak Hatta suka baca, jadi diruangan ini dulu beliau suka menghabiskan waktu untuk membaca buku," ucap Amzal.

Rumah dua lantai tersebut berisi banyak perabotan lama serta dokumen-dokumen saat Bung Hatta tinggal di sana. Pada Tahun 2010 Rumah Kelahiran Bung Hatta ditetapkan sebagai Cagar Budaya.

"Setelah tamat Sekolah Rakyat, beliau dibawa Ayah tirinya ke Padang untuk melanjutkan sekolah MULO (SMP sekarang)," lanjut Amzal.

Bung Hatta saat berusia 8 bulan sudah yatim kemudian Ibunya, Saleha, menikah lagi dengan orang Lampung dan juga seorang syekh.

Rumah Kelahiran Bung Hatta sebenarnya adalah replika dari rumah yang asli. Rumah yang asli sudah roboh karena lapuk dan dimakan usia.

"Rumah yang asli dibangun tahun 1860 zaman Belanda dan tahun 1960 roboh karena lapuk Bapak Hatta juga tidak tinggal di sini lagi. Kemudian tahun 1994 dibangun ulang dan selesai tahun 1995 dalam setahun pembangunan," kata Amzal.

Kata Amzal, beda rumah asli dengan yang replika adalah posisi rumah asli yang dulu tepat ditepi jalan dan tidak ada halaman.

"Rumah asli dulu tepat di tepi jalan tidak ada halaman. Sekarang rumah replika ini agak kebelakang dan ada halaman," ujar Amzall.

Sumber: Tribun Padang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved