Akses berita terupdate se-indonesia lewat aplikasi TRIBUNnews

Sumbar Alami Inflasi 8,49 Persen, Pengamat Ekonomi: Sudah Diprediksi, Dampak Harga BBM Naik

Penulis: Rima Kurniati
Editor: Mona Triana
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi inflasi-Berdasarkan data BPS Sumbar, inflasi year on year September 2022 Sumatera Barat atau September 2022 terhadap September 2021 sebesar 8,49 persen.

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Berdasarkan data BPS Sumbar, inflasi year on year September 2022 Sumatera Barat atau September 2022 terhadap September 2021 sebesar 8,49 persen.

Inflasi Sumatera Barat terbentuk dari gabungan 2 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumatera Barat, yaitu Kota Padang dan Kota Bukittinggi. 

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Kota Padang Huriyatul Akmal mengaku, tidak kaget dengan angka inflasi tersebut.

Baca juga: BPS Sumbar: Nilai Ekspor Sumbar Capai US $331,19 Juta, Terbanyak ke Pakistan

Tingginya inflasi di Sumbar, sudah diprediksi ketika pemerintah mengambil langkah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM)

"Menurut saya (inflasi Sumbar) masih dalam range yang bisa ditolerir, mengingat angka kenaikan BBM sampai 25 persen dari harga awal," ujarnya, Selasa (4/10/2022)

Ia mencontohkan, sebagai ibu kota Provinsi Sumbar, Padang ialah salah satu kota dagang begitu juga Kota Bukittinggi.

Semua komoditinya berasal dari daerah lain, pasokan pangannya juga berasal dari luar kota Padang.

Baca juga: Hotel Bintang 3 di Sumatera Barat Lebih Diminati, Data BPS Catat TPK Juni Paling Tinggi

"Ibaratnya, harga yang ada di Padang dan pasokan yang masuk ke Padang adalah hasil akumulasi dari berbagai penyebab kenaikan harga, seperti BBM, distribusi, harga pokok produk yang juga ikutan naik," ujarnya.

Ia mengatakan, inflasi di Sumbar juga terjadi karena produk-produk harian sudah naik semua, sementara pendapatan masyarakat dan peluang kerja justru menurun.

"Konon bunga kredit bank juga akan ikut naik, karena BI sudah naikkan suku bunga acuan," ucapnya.

Lanjutnya, naiknya suku bunga BI akan semakin berdampak terhadap kondisi ekonomi keseluruhan.

"Targetnya orang menahan konsumsi, padahal yang naik harga kebutuhan wajib masyarakat," ujarnya.

Ia menambahkan, masyarakat tidak bisa sehari saja tak pakai motor atau mobil, karena butuh untuk aktivitas ekonominya.

"Kondisi ini diperparah dengan kemacetan yang mulai mengular di beberapa ruas jalan, terutama pagi dan sore hari, lagi-lagi konsumsi BBM nambah," tuturnya.

(TribunPadang.com/ Rima Kurniati)