Sejak Januari 2021, Tercatat 23 Kecelakaan Kereta Api di Sumbar, Ada Korban Meninggal Dunia

Penulis: Rizka Desri Yusfita
Editor: Saridal Maijar
Kecelakaan kereta api dengan sepeda motor di kawasan Lubuk Buaya, Koto Tangah, Kota Padang, Sumbar, Jumat (22/1/2021).

Laporan Wartawan TribunPadang.com, Rizka Desri Yusfita

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divre II Sumbar mencatat, ada 23 kecelakaan kereta sejak Januari hingga Juni 2021.

"Terdata sebanyak 23 kali temperan kendaraan atau orang dari bulan Januari 2021 sampai dengan Juni 2021," terang Kepala Humas PT KAI Divre II Sumbar, Erlangga Budi Laksono, Jumat (30/7/2021).

Erlangga menjelaskan, seluruh kecelakaan tersebut ada yang mengakibatkan sejumlah orang meninggal dunia, luka berat, dan luka ringan.

Baca juga: Mahasiswi Kebidanan Meninggal Dunia Tertabrak Kereta Api di Simpang Polonia Padang

PT KAI mengingatkan masyarakat agar lebih waspada dan mematuhi rambu saat melintasi perlintasan kereta api.

"Kami mengimbau bagi pejalan kaki atau pengendara lainya agar selalu berhati - hati dan berhentilah sejenak untuk memastikan tidak ada kereta api yang melintas saat akan lewat di jalur kereta api," imbau Erlangga.

Ia menjelaskan, sesuai Undang - Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang perkeretaapian Pasal 181 ayat 1, setiap orang dilarang berada di ruang manfaat jalur kereta api, menyeret, menggerakan, meletakan, atau memindahkan barang diatas rel atau melintasi jalur kereta api, ataupun menggunakan jalur kereta api untuk kepentingan lain, selain untuk angkutan kereta api.

Baca juga: KAI Divre II Sumbar Kurangi Perjalanan Kereta Api Minangkabau Ekspres dan Lembah Anai Selama Sepekan

Hal tersebut diingatkan Erlangga pasca terjadinya kecelakan Kereta Api Minangkabau Ekspres (KA 24) arah dari Padang menuju Bandara Internasional Minangkabau (BIM).

Temperan terjadi dengan seorang pejalan kaki di petak jalan KM 13+200 antara Stasiun Padang dan Stasiun Tabing.

Erlangga mengatakan, masinis telah membunyikan Semboyan 35 (Klakson Kereta Api).

Namun karena jarak semakin dekat dan korban tidak dapat menghindar, akhirnya terjadi temperan. (*)