Selfi Farisha, Perempuan Pertama dan Termuda Menjadi Direktur Semen Padang Hospital

Penulis: Panji Rahmat
Editor: Mona Triana
Direktur Internal Semen Padang Hospital Selfi Farisha

“Setiap perempuan mempunyai kesempatan yang sama untuk berkarya, untuk memajukan potensi dirinya, jangan mudah menyerah tetap menjadi perempuan yang tangguh tapi tidak melupakan kodratnya sebagai perempuan atau ibu rumah tangga,” Kata Selfi Farisha. 
 
 Laporan Wartawan TribunPadang.com, Rahmat Panji 

TRIBUNPADANG.COM,PADANG – Selfi Farisha menjabat sebagai Direktur Internal Semen Padang Hospital (SPH) perempuan pertama dan termuda.

Menjadi seorang dokter merupakan cita-citanya sejak kecil.

“Saya ingin membantu sesama, lagian di keluarga besar saya belum ada yang menjadi dokter makanya saya ingin sekali,” kata perempuan 33 tahun tersebut.

Cita-cita menjadi dokter makin lekat pada Selfi ketika bersekolah di SMAN 1 Padang.

“Seperti kita tahu SMAN 1 Padang, hampir semua muridnya memiliki jiwa kompetitif untuk bisa berkuliah di universitas terbaik,” ujarnya.

Baca juga: Peringati Hari Kartini, Srikandi KSB Kota Padang Semprotkan Disinfektan Menggunakan Kebaya

Baca juga: Kumpulan Ucapan Selamat Hari Kartini Bisa Dijadikan Status Facebook, Instagram dan Twitter

Hal ini yang membuat dirinya semakin kukuh menjadi seorang dokter, karena ditempa dalam lingkungan seperti itu. 

Didikan seperti itu ternyata juga sudah berlangsung lama dalam kehidupan Selfi, terlahir sebagai anak seorang guru dan ayah pegawai bank membuat dirinya begitu disiplin dalam menjalankan kehidupan.

Terlebih seluruh saudara Selfi juga memiliki prestasi yang baik, sehingga jiwa kompetetifnya sudah dipupuk sedari rumah.

“Sebenarnya di rumah cara kompetitif itu sudah melekat di keluarga saya, namun ditambah dengan lingkungan sekolah tekad itu semakin menjadi-jadi,” Jelas anak pertama dari tiga bersaudara.

Baca juga: Ucapan Kata Mutiara Hari Kartini Cocok Dijadikan Update Status di Media Sosial, WhatsApp, Instagram

Baca juga: Rayakan Hari Kartini, GOJEK Di Padang Memberikan Pelatihan Khusus Untuk Peningkatan Kesejahteraan

Sewaktu tamat dari SMAN 1 Padang tahun 2005, Selfi mencoba peruntungan melalui jalur ujian masuk kuliah.

Selfi memilih dua jurusan waktu itu, pertama adalah Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) dan kedua Fakultas Teknik Industri Unand. 

“Saya itu waktu SMA jurusannya IPA jadi pilihan saya kalau tidak dokter ya di teknik,” terangnya. 

Ternyata hasil dari ujian tersebut tidak memuaskan hatinya, Selfi lulus pada pilihan kedua. 

Namun, Selfi tidak patah arang dengan nasib yang demikian, ia tetap ikut bimbel sambil menjalani kuliah di Fakultas Teknik Industri. 

“Saya masih tetap ingin menjadi dokter, namun saya tetap menjalankan perkuliahan di teknik industri,” terangnya. 

Tekadnya yang kuat ternyata juga didukung oleh orang tuanya. 

Baca juga: Sambut Hari Kartini, Karyawati dan Para Istri Karyawan PLN Sumbar Santuni Anak Yatim

Baca juga: Hari Kartini, Berikut 21 Ucapan dan Kutipan yang Cocok untuk Status WhatsApp, Instagram dan Facebook

“Orang tua saya itu tidak pernah mengekang anaknya, selalu membebaskan saya untuk pilihan yang saya inginkan,” kata Selfi.

Dukungan dari orang tua tersebutlah yang membuat Selfi semakin giat untuk mengikuti bimbel sembari menjalani kuliah. 

Alhasil pada tahun 2006, Selfi kembali mengikuti ujian masuk kuliah, pada ujian kedua ia lulus di kedokteran Unand. 

“Jadi masuk kedokteran itu pada tahun 2006, sebelumnya saya berkuliah di teknik industri,” imbuhnya.

Tekadnya yang kuat itu juga muncul dari didikan keluarganya yang luar biasa menurutnya, selain itu sebagai anak pertama keteguhan hatinya sangat sulit untuk di patahkan. 

“Kebetulan saya itu anak pertama jadi kareh angok (keras kepala) kalau orang padang bilang,” jelas ibu 3 anak itu. 

Kekerasan hati Selfi untuk menjadi seorang dokter dijawab ketika bisa menyelesaikan perkuliahan dalam waktu 5 tahun 8 bulan. 

“Kalau untuk menjadi dokter sebenarnya tidak gampang karena banyak hal yang harus saya korbankan, namun hal tersebut bisa saya selesaikan sehingga saya tamat pada tahun 2012,” paparnya.

Selfi menjelaskan kuliah di kedokteran harus mengerahkan waktu, tenaga, fikiran dan lingkungan sosialnya. 

“Saya kaget sekali saat perkuliahan dinamikanya sangat berbeda waktu saya kuliah di teknik dulu,” terangnya. 

Namun, Selfi sangat tenang menghadapi hal tersebut dan bisa beradaptasi dengan cepat. 

Ia juga merasa beruntung karena bisa membagi waktu dengan baik sehingga bisa menyelesaikan kuliahnya tepat waktu. 

Baca juga: Semen Padang FC Perpanjang Kontrak Vendry Mofu, Effendi Syahputra: Bukti Kesiapan Menghadapi Liga 2

Baca juga: Semen Padang Hospital Lakukan Persiapan Tanggapi Kasus Covid-19 yang Kembali Melonjak

“Saya tidak masalah ketika berkuliah tidak bisa bertemu atau bersosialisasi dengan teman SMA atau teman lainnya, namun saya masih bisa untuk bersosialisasi dengan teman-teman sesama di kedokteran,” jelasnya.

Setelah menyelesaikan kuliah dan koas, Selfi melanjutkan intensif agar bisa bertugas menjadi seorang dokter. 

“Selesai Koas itu tahun 2012 lalu saya lanjut intensif biar bisa bertugas, intensif itu satu tahun,” terangnya.

Setelah intensif barulah Selfi bekerja di SPH pada Agustus 2013, ia memulai karir di SPH sebagai dokter penjaga sampai akhirnya bisa menjadi direktur. 

“Saya mulainya dari nol dulu, pada tahun 2013 saya jadi dokter penjaga, lalu mutasi di tahun 2015 verivikator internal BPJS SPH, 2016 saya mutasi menjadi supervisor penunjang medis, lalu baru pada 2017 saya promosi menjadi kepala bagian penunjang medis,” kata ibu tiga anak ini.

Selanjutnya pada tahun 2020 tepatnya bulan November barulah Selfi menjadi seorang direktur internal SPH. 

“Prosesnya panjang dan saya juga tidak menyangka bisa sampai pada tahap ini, namun ini bukan akhir dari perjalanan saya sebagai seorang dokter saya masih ada pencapaian lain tentunya,” jelas wanita yang sedang melanjutkan kuliah S2 di Unand itu.

Sekarang Selfi sedang melanjutkan studi S2nya di Unand jurusan manajemen rumah sakit.

Namun, di antara kesibukan yang dimiliki Selfi mengaku tidak kewalahan dalam membagi waktunya dengan keluarga. 

Baca juga: Semen Padang Hospital Tandatangani Perjanjian Kerjasama RS BUMN Tahap III dengan Pertamedika IHC

Baca juga: Warga Padang Panjang Hendak Ke Bali Malahan Positif Corona, Diisolasi di Semen Padang Hospital

“Alhamdulillah sampai sekarang semua masih bisa saya manage dengan baik jadi tidak ada kecemburuan antara keluarga dan pekerjaan saya,” katanya.

Ia juga mengaku bahwa sebelum menjadi seorang direktur sebenarnya sudah ada pembicaraan dengan suami dan keluarga saya terkait keputusan ini. 

Sekarang semua tergantung pada dirinya, apakah dia mampu untuk mengatur waktu antara mengurus pekerjaan serta keluarga. 

“Kalau di rumah sakit saya harus menyelesaikan tugas professional, sedangkan di rumah saya kembali menjadi sosok seorang ibu,” jelas Selfi.

Pagi saya menyiapkan makanan serta seragam anak untuk sekolah, nanti sewaktu pulang saya kembali mengurus mereka sampai sebelum mereka tidur. 

“Walaupun waktunya mepet saya tetap berusaha semaksimal mungkin untuk memanfaatkan waktu,” tukasnya. 

Menurutnya menjadi wanita tidak melulu soal hakikat sebagai seorang wanita, dimana wanita harus selalu mengurus rumah tangga dan keluarga. 

Dalam rangka Hari Kartini pada 21 April 2021 ini, Selfi memberikan pesan pada pembaca TribunPadang.com.

“Setiap perempuan mempunyai kesempatan yang sama untuk berkarya, untuk memajukan potensi dirinya, jangan mudah menyerah tetap menjadi perempuan yang tangguh tapi tidak melupakan kodratnya sebagai perempuan atau ibu rumah tangga,” Kata Selfi Farisha. (*)