BMKG Imbau Warga Sumbar Waspadai Cuaca Tak Menentu dan Risiko Kebakaran Lahan

Cuaca yang berubah-ubah di wilayah Sumatera Barat menjadi perhatian serius Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Penulis: Fajar Alfaridho Herman | Editor: Emil Mahmud
DOK/TRIBUNNEWS.COM
MASALAH KEBAKARAN HUTAN - Ilustrasi kebakaran hutan yang disebabkan oleh penebangan dan pembakaran liar dan diperparah oleh cuaca panas, sehingga api sulit dikendalikan. Sebagaimana kondisi serupa yakni cuaca yang berubah-ubah di wilayah Sumatera Barat menjadi perhatian serius Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). 

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Cuaca yang berubah-ubah di wilayah Sumatera Barat menjadi perhatian serius Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kepala BMKG Kelas II Minangkabau, Desindra Dedi Kurnia, mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap dinamika cuaca, terutama di tengah masa peralihan musim yang sedang berlangsung.

Menurut Desindra, sebagian wilayah Sumbar kini telah memasuki musim kemarau, sementara wilayah lainnya masih mengalami hujan, meskipun hanya bersifat lokal dan berintensitas ringan hingga sedang.

“Wilayah seperti Solok Selatan dan Dharmasraya masih berpotensi diguyur hujan pada malam hari hingga tanggal. Tapi sifatnya sporadis, tidak merata,” ungkap Desrindra, Minggu (6/7/2025).

Baca juga: Prakiraan Cuaca BMKG Wilayah Sumbar Minggu 6 Juli 2025, dari Pesisir Selatan hingga Kota Pariaman

Gempa bumi hari ini, Rabu (26/7/2023) terjadi di Gorontalo. Info BMKG, gempa bumi hari ini terjadi dengan mangnitudo 3,5 sekitar pukul 17.02 WIB
Ilustrasi: Peta dan cuaca di wilayah Indonesia (bmkg.go.id)

Ia menambahkan, Kota Padang memiliki karakteristik iklim yang unik karena tidak mengikuti pola musim seperti daerah lainnya.

Akibatnya, wilayah ini cenderung mengalami hujan sepanjang tahun, berbeda dengan beberapa kabupaten yang kini mulai mengalami kekeringan.

BMKG juga mencatat sejumlah wilayah mulai menunjukkan tanda-tanda kekeringan. Hal ini berdasarkan pantauan hari tanpa hujan (HTH), di mana beberapa daerah mengalami lebih dari 17 hari tanpa curah hujan.

“Wilayah yang mengalami HTH 11 hingga 20 hari masuk dalam kategori kekeringan menengah. Ini menjadi indikasi kuat bahwa musim kemarau telah melanda sebagian Sumatera Barat,” jelasnya.

Selain kekeringan, peningkatan jumlah titik panas atau hotspot turut menjadi perhatian BMKG. Pada 27 Juni lalu, terpantau 322 hotspot di Kabupaten Pesisir Selatan dan 167 titik di Pasaman Barat. Meski belum seluruhnya dipastikan sebagai kebakaran lahan, tren ini dinilai mengkhawatirkan.

“Kami minta masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan. Kondisi tanah yang mulai mengering sangat rentan terhadap kebakaran, seperti yang pernah terjadi di Lembah Harau dan Solok,” tegasnya.

Sampai sejauh ini, pihak BMKG juga mengimbau masyarakat untuk mulai menyesuaikan diri dengan kondisi cuaca saat ini.

Yakni menggunakan pelindung dari sinar matahari saat beraktivitas di luar ruangan, menjaga asupan cairan tubuh, serta menghemat penggunaan air merupakan langkah antisipatif yang disarankan.

Hal yang tak kalah pentingnya, Desindra juga meminta masyarakat untuk aktif memantau prakiraan cuaca melalui kanal resmi BMKG agar lebih siap dalam menghadapi perubahan iklim yang tidak menentu.(*)

Sumber: Tribun Padang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved