Tempat Wisata di Sumbar
9 Tempat Wisata Bukittinggi Sumbar Wajib Dikunjungi, Ada Jam Gadang hingga Lobang Jepang
9 tempat wisata Bukittinggi Sumbar yang wajib dikunjungi saat liburan akhir tahun.
TRIBUNPADANG.COM - 9 tempat wisata Bukittinggi Sumbar yang wajib dikunjungi saat liburan akhir tahun.
Banyak rekomendasi tempat wisata Bukittinggi yang bisa dikunjungi bersama teman, keluarga, atau untuk solo traveling.
1. Jam Gadang
Jam gadang merupakan ikon kota Bukittinggi Sumatera Barat.
Jam Gadang Bukittinggi dijadikan destinasi wisata bagi wisatawan yang datang baik domestik maupun internasional.
Jam Gadang berukuran 13×4 meter ini berdiri di atas kawasan Taman Sabai Nan Aluih tepat di depan Istana Bung Hatta.
Di kawasan sekitar jam gadang ini ditanam sejumlah pohon sehingga makin terasa rindang.
Pemerintah bukittinggi juga melengkapinya dengan kursi-kursi beton untuk bersantai.
Taman Jam Gadang ini selalu ramai, mulai pagi, siang, sore hingga pada malam hari.
Banyak tua muda selalu memanfaatkannya untuk bersantai.
Bahkan, banyak orang tua muda membawa buah hatinya bermain disini pada sore hari.
2. Lobang Jepang Bukittinggi
Lobang Jepang merupakan peninggalan zaman Jepang yang dahulu dibangun oleh orang Indonesia melalui kerja paksa di bawah tekanan tentara Jepang pada saat itu yang berhasil menduduki Indonesia dari tahun 1942 sampai 1945.
Lubang Jepang ini memiliki panjang kurang lebih 1.470 meter dan berjarak 40 meter di bawah Ngarai Sianok.
Terdapat 21 terowongan di dalam lobang jepang, yang dulunya digunakan untuk menyimpan amunisi, tempat tinggal, ruang pertemuan, ruang tahanan, ruang makan, dapur, ruang penyiksaan, ruang mata-mata, ruang penyergapan, dan pintu gerbang.
Gua (lobang) jepang, akses tangga masuk sangat baik, cukup lebar dan luas.
Kondisi ventilasi baik, udara sejuk tidak pengap, dilengkapi lampu-lampu pemandu, suasana tidak seram.
3. Benteng Fort de Kock
Benteng Fort De Kock merupakan sebuah benteng peninggalan bangsa Belanda yang berdiri di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat.
Kawasan ini hanya terletak kurang lebih 1 km dari pusat kota Bukittinggi yakni di kawasan Jam Gadang, lokasi tepatnya di terusan jalan Tuanku nan Renceh.
Bangunan Benteng Fort De Kock ini didirikan oleh Kapten Bouer pada tahun 1825.
Benteng Fort De Kock ini digunakan oleh Tentara Belanda sebagai kubu pertahanan dari gempuran rakyat Minangkabau terutama sejak meletusnya Perang Paderi pada tahun 1821-1837.
Masuk kawasan ini bisa langsung dari pintu masuk benteng atau dari pintu masuk bonbin dan menyebrang lewat jembatan limpapeh.
Kondisi benteng masih terawat, dengan beberapa meriam di sekitar benteng.
Suasana sekitar benteng dihiasi pepohonan yang sangat nyaman dan asri, banyak pondok dan tempat duduk, ada Musala dan toilet.
Didekat pintu masuk benteng ada Rumah Makan Benteng Family Indah yang legendaris dan cukup terkenal dengan ayam popnya.
4. Jembatan Limpapeh
Jembatan Limpapeh dibangun sekitar tahun 1995 dengan terlihat dominan warna kuning dan merah.
Jembatan yang terbuat dari baja ini menghubungkan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan dengan Benteng Fort de Kock.
Dari atas sini bisa melihat pemandangan kota Bukittinggi. Selain itu bisa jadi spot foto yang bagus.
5. Ngarai Sianok
Ngarai sianok ini membentang sejauh kurang lebih 15 km dari sisi selatan Nagari Koto Gadang hingga Nagari Sianok Enam Suku, dengan kedalaman lembah mencapai 100 meter dan lebar celah sekitar 200 meter.
Ngarai Sianok merupakan suatu wujud visual yang paling jelas dari aktivitas pergerakan lempeng bumi “tektonik” di Pulau Sumatera ini.
Proses terbentuk patahan tersebut menghasilkan sebuah kawasan yang subur dengan panorama yang indah.
Kawasan ngarai sianok ini memiliki sebutan lain yaitu, Lembah Pendiam, karena suasananya yang tenang dan damai.
Didukung dengan udaranya yang sejuk dan angin yang berhembus semilir, diiringi latar suara kicauan burung kecil kecil dan gemericik air sungai, ngarai ini cocok sebagai tempat melepaskan beban pikiran dari rutinitas sehari-hari.
6. Janjang Ampek Puluah
Janjang Ampek Puluah berasal dari kata bahasa Minang yaitu Janjang (tangga) ampek (empat) puluah (puluh).
Nama tersebut berasal dari jumlah anak tangga sebanyak empat puluh.
Janjang 40 dibangun pada tahun 1908 sewaktu Louis Constant Westenenk menjabat sebagai Asisten Residen Agam.
Pada waktu itu, pemerintah hindia belanda menghubungkan setiap pasar di Bukittinggi dengan jenjang atau anak tangga) untuk penataan pasar.
Beberapa jenjang lainnya di antaranya janjang gudang, janjang minang di kampuang cino dan jenjang di pasa lereng yang bersambung dengan janjang gantuang.
Janjang Gantuang merupakan jembatan penyebrangan yang pertama di indonesia.
Janjang ampek puluah cukup terjal dengan tinggi anak tangga 25 cm. Lantai tangga berwarna merah tua.
Pada musim hujan harus jalan dengan hati-hati saat melalui janjang ampek puluah, karena curah hujan yang tinggi di Bukittinggi dan aliran air dari pasar atas melalui tangga yang cukup banyak, menyebabkan tangga menjadi licin dan ini membahayakan pejalan kaki meski di sisi kanan tangga terdapat railing, untuk pegangan saat naik dan turun.
7. Janjang Saribu
Ada lagi wisata yang mengesankan di Bukittinggi yakni Janjang Saribu.
Lokasinya sangat dekat dari jalan umum yang biasa dilalui angkot. Jaraknya pun sangat dekat sama masjid dan juga ada penginapan tepat di seberang masjid.
Dalam menikmati kunjungan ke janjang saribu Bukittinggi , tentu saja Anda harus mengetahui terlebih dahulu tentang tempat wisata ini.
Pengunjung biasanya ingin merasakan sebuah sensasi saat berkunjung ke Tembok Besar Cina, namun ini merupakan tembok cina versi kota Bukittinggi.
8. Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta
Banyak informasi yang bisa dilihat di sini, untuk menambah wawasan.
Alangkah baiknya mengajak anak-anak, untuk mengenal sejarah perjuangan Bangsa Indonesia bersama sang Proklamator.
Yayasan Pendidikan Wawasan Nusantara yang mengelola Universitas Bunga Hatta, merenovasi rumah kelahiran Bung Hatta pada bulan September 1994.
Perencanaan dan Pelaksanaan renovasi dipimpin oleh Rektor Universitas Bung Hatta.
Museum ini dikelola oleh Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Bukittinggi yang bernilai sejarah yang tinggi.
9. Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan merupakan sebuah taman rekreasi keluarga dan objek wisata budaya di Kota Bukittinggi yang wajib dikunjungi, dengan berjalan kaki cukup menyeberangi Jembatan Limpapeh.
Sesaat setelah selesai melihat Benteng Fort de Kock, Anda Memasuki area Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan.
Tempatnya cukup baik untuk mengisi liburan anak-anak. Banyak beragam hewan-hewan yg ada ditempat ini.
(Tribunpekanbarutravel.com / Tribunpadang.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/Penampakan-Jam-Gadang-Bukittinggi-pada-Selasa-5920.jpg)