Citizen Journalism

Mirisnya Pertambangan Tanpa Izin (PETI), yang tidak Terkendali

KEBERADAAN Batang Kuantan, yang berhulu pada pertemuan Batang Ombilin, Batang Sukam, dan Batang Palangki, merupakan sebuah sungai legendaris yang memb

Editor: Emil Mahmud
ISTIMEWA/DOK.PRIBADI
Muhammad Rijal Yamin, mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Andalas 

Oleh : Muhammad Rijal Yamin, mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Andalas

KEBERADAAN Batang Kuantan, yang berhulu pada pertemuan Batang Ombilin, Batang Sukam, dan Batang Palangki, merupakan sebuah sungai legendaris yang membelah Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) menjadi dua.

Hilirnya terus mengalir hingga Riau, yang konon sungai ini merupakan salah satu jalur perdagangan dan transportasi menuju ke Malaka yang ramai dan megah.

Orang-orang perbukitan Minangkabau membawa barang dagangan mereka melewati deru redam arus Batang Kuantan berupa sayur mayur, untuk nantinya diperdagangkan di beberapa pelabuhan dan pasar tradisional masa klasik.

Kabupaten Sijunjung, yang menjadi jalur singah aliran Batang Kuantan ini dapat dikatakan sangat beruntung oleh sebab banyak potensi sumber daya yang sangat kaya jika ditelaah.

Keberadaan bukit karst dan batuan pra-sejarah gagah sekali menggaungkan nama Sijunjung hingga membawanya ke UNESCO.

Alhasil menjadilah dia sebagai salah satu geopark yang diakui dunia. Lantas sebelum itu juga, Sijunjung dinobatkan sebagai Daerah Pelayanan Pariwisata (DPP) V Sumbar yang mencangkup 66 objek wisata.

Di antaranya ialah wisata alam, wisata budaya, dan wisata minat khusus. Beberapa darinya dimasukkan sebagai kawasan geopark, yang sedikitnya juga bersingungan dengan Batang Kuantan yang cokelat airnya.

Namun, tak hanya merajai bagian pariwisata, kekayaan alam yang terlimpah dalam tanah Sijunjung menarik perhatian para ahli luar untuk melakukan penelitian pada beberapa dekade silam.

Tujuan mereka adalah mencari tambang di aliran Kuantan yang perkasa. Salah satu peristiwa yang terkenal adalah peristiwa seorang Insiyur asal Belanda, H de Grave.

De Grave menjadi saksi tangguhnya arus Kuantan dalam ekspedisinya mencari jalur transportasi pengangkut batu bara ke Malaka.

Dia memilih Batang Kuantan yang memiliki arus menggelegar itu, dan tanpa ragu, dia Bersama tim ekspedisinya berhasil masuk ke Kuantan setelah menyusuri Ombilin yang bertemu Palangki untuk berhilir di Kuantan.

Lantas, ketika dia mencoba untuk menaklukkan jeram Kuantan, tak disangka dia mencapai ajalnya sebab tenggelam. Kemudian dia dimakamkan di Nagar Durian Gadang.

Hingga saat ini, makam beliau tetap eksis dan dilestarikan sebagai catatan sejarah masa silam dalam eksplorasi Batang Kuantan.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved