HUT ke 23 Kepulauan Mentawai

Catatan 23 Tahun Kepulauan Mentawai, Maskota Delfi Bicara Budaya, Hutan, dan Pembangunan di Mentawai

HUT ke-23 Kepulauan Mentawai, Akademisi dari Jurusan Antropologi Unand Dr. Maskota Delfi berbicara tentang budaya, hutan, dan pembangunan di Mentawai

Penulis: Wahyu Bahar | Editor: Rizka Desri Yusfita
Dok Pribadi Dr. Maskota Delfi
Akademisi dari Jurusan Antropologi Universitas Andalas Dr. Maskota Delfi saat memetik jambu bol di Buttui Siberut Selatan Kepulauan Mentawai Maret 2022 lalu. Pada momen peringatan HUT ke-23 Kabupaten Kepulauan Mentawai, ia mengupas pelbagai hal terkait perkembangan Mentawai dari dulu hingga hari ini. Ia menyoroti berbagai aspek, seperti Budaya, Hutan, serta Pembangunan di Mentawai. 

TRIBUNPADANG.COM, KEPULAUAN MENTAWAI - "Selamat Ulang Tahun yang ke-23 untuk Mentawai."

“Malainge Mentawaiku, Malainge Indonesiaku (Jaya Mentawaiku, Jaya Indonesiaku)."

“Anai obagta, anai enunganta (ada kemauan, ada jalan)."

Tepat pada Selasa (4/10/2022), Kabupaten Kepulauan Mentawai genap berusia 23 tahun sesuai UU Nomor 49 Tahun 1999.

Akademisi dari Jurusan Antropologi Universitas Andalas, Dr. Maskota Delfi mengatakan, di usia 23 tahun Kepulauan Mentawai, pembangunan Mentawai mesti terus dilakukan.

Utamanya pembangunan non-fisik yaitu di bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi.

Baca juga: HUT ke-23 Kepulauan Mentawai, Ketua FORMMA: Budaya dan Hak Masyarakat Harus Diakomodir

Baginya, Mentawai tidak hanya punya kekayaan sumber daya alam (SDA), melainkan juga kebudayaan yang beragam.

Antar daerah di Kepulauan Mentawai, kata dia, punya karakteristik budayanya masing-masing.

Diketahui, Kepulauan Mentawai terbagi atas empat pulau utama yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Selatan.

Dari keempat pulau tersebut, kata Maskota ada perbedaan dalam karakteristik alam dan budaya yang jadi kekhasan wilayah masing-masing.

Anak-anak muda Mentawai menurutnya secara khusus harus menyadari keberagaman itu sebagai suatu kekayaan, yang perlu tetap dijaga dan dirawat.

Caranya antara lain, dengan mempelajari itu budaya sendiri.

Akademisi dari Jurusan Antropologi Universitas Andalas Dr. Maskota Delfi saat memetik jambu bol di Buttui Siberut Selatan Kepulauan Mentawai Maret 2022 lalu.
Pada momen peringatan HUT ke-23 Kabupaten Kepulauan Mentawai, ia mengupas pelbagai hal terkait perkembangan Mentawai dari dulu hingga hari ini. Ia menyoroti berbagai aspek, seperti Budaya, Hutan, serta Pembangunan di Mentawai.
Akademisi dari Jurusan Antropologi Universitas Andalas Dr. Maskota Delfi saat memetik jambu bol di Buttui Siberut Selatan Kepulauan Mentawai Maret 2022 lalu. Pada momen peringatan HUT ke-23 Kabupaten Kepulauan Mentawai, ia mengupas pelbagai hal terkait perkembangan Mentawai dari dulu hingga hari ini. Ia menyoroti berbagai aspek, seperti Budaya, Hutan, serta Pembangunan di Mentawai. (Dok Pribadi Dr. Maskota Delfi)

Kata Maskota, dengan cara itu akan timbul rasa bangga dengan budaya sendiri, sehingga lambat laun akan muncul pula penghargaan terhadap budaya lain.

Masyarakat, termasuk anak muda Mentawai seyogyanya menyadari keragaman budaya daerahnya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Padang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved