HUT Ke 77 Sumatera Barat

JK Bicara Dunia Usaha HUT ke-77 Sumbar, Sebut jika Orang Minang Mogok, Satu Indonesia akan Kelaparan

Jika orang Minang ingin mogok, maka orang Indonesia akan kelaparan.Kalimat tersebut disampaikan ol

Penulis: Wahyu Bahar | Editor: Emil Mahmud
TRIBUNPADANG.COM/WAHYU BAHAR
Mantan Wapres RI, Jusuf Kalla (JK) saat peringatan HUT ke-77 Sumbar,  di Kantor DPRD Sumbar, Sabtu (1/10/2022). 

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Jika orang Minang ingin mogok, maka orang Indonesia akan kelaparan.

Kalimat tersebut disampaikan oleh Mantan Wapres Jusuf Kalla (JK) saat peringatan HUT ke-77 Sumbar,  di Kantor DPRD Sumbar, Sabtu (1/10/2022).

JK menilai, pengaruh orang Minang begitu besar.

"Apabila kita pergi ke suatu daerah, tentu kita tidak akan bicara tentang rumah makan, karena restoran Padang ada dimana-mana," ujar JK.

Dalam bidang kuliner atau masakan itu, JK menganggap orang Minang atau Sumbar punya penguasaan, dan merupakan suatu ciri tertentu.

Namun penguasaan itu, kata JK, tidak dibarengi dengan kemajuan ekonomi.

Wahyu Network
Mantan Wapres RI, Jusuf Kalla (JK) saat peringatan HUT ke-77 Sumbar,  di Kantor DPRD Sumbar, Sabtu (1/10/2022).(TRIBUNPADANG.COM/WAHYU BAHAR)

"Tapi kenapa di Sumbar ini tingkat kemajuan ekonominya selalu dinilai tidak sebanding dengan kemampuannya?," kata JK yang merupakan Sumando orang Minang ini.

Ia lantas mempertanyakan, apakah generasi pengusaha Minang sebelumnya itu lebih baik dari generasi sekarang.

Meski ia tak menampik pengusaha-pengusaha saat ini juga terbilang sukses seperti Basrizal Koto, Nurhayati Subakat pemilik brand kosmetik Wardah, dan lainnya.

JK lalu menyebut kejayaan pengusaha asal Minang masa lalu, macam Hasjim Ning, Sidi Tando, hingga Rahman Tamin.

"Orang China belum bicara tentang tekstil, tapi Rahman Tamin sudah punya pabrik tekstil di Jakarta dan Surabaya," ujar dia.

Lalu, JK menilai kebesaran pengusaha asal Minang masa lalu itu karena generasi penerus tidak melanjutkan usaha-usaha besar tersebut.

"Ada teori yang mengatakan, generasi pertama membangun usaha, generasi kedua menikmati usaha itu, dan generasi ketiga menghancurkannya, itu bisa terjadi. Saya generasi kedua," kata dia.

Penyebab lain, menurut JK, lelaki di Minangkabau mulai meninggalkan surau sebagai sarana pendidikan, agama, hingga tempat belajar silat.

Hal itu juga ia diskusikan dengan tokoh Sumbar yang merupakan Sosiolog dan Antropolog Mochtar Naim.

Mochtar Naim, kata JK juga merasakan hal yang sama. Laki-laki di Sumbar tidak lagi ke surau.

Sementara, dari segi keagamaan, JK menilai juga ada penurunan kuantitas ulama-ulama besar.

"Ulama dulu di Jakarta tahun 50 hingga 60-an, kalau ada 10 masjid yang melaksanakan salat Jumat, delapan diantara khatibnya biasanya orang Minang," ujar JK lagi.(TribunPadang,com/Wahyu Bahar)

Sumber: Tribun Padang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved