Kabupaten Sijunjung

Tukang Ojek di Sijunjung Rasakan Dampak Kenaikan Harga BBM, Minyak Naik tapi Ongkos Masih Tetap

Pasca kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), tukang ojek di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat (Sumbar), menjadi salah satu profesi yang terdampak

Penulis: Hafiz Ibnu Marsal | Editor: afrizal
tribunpadang.com/HafizIbnuMarsal
Tukang Ojek Simpang Logas Nagari Muaro, Kecamatan Sijunjung, Kabupaten Sijunjung, Sumbar, mengeluhkan naiknya harga BBM, Jumat (9/9/2022). 

TRIBUNPADANG.COM, SIJUNJUNG- Pasca kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), tukang ojek di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat (Sumbar), menjadi salah satu profesi yang terdampak kebijakan tersebut.

Seorang tukang ojek di Simpang Logas, Nagari Muaro, Kecamatan Sijunjung, Saparudin (45) menyebut, naiknya harga BBM otomatis menjadikan hasil pendapatannya sehari-hari menjadi berkurang.

"Iya tentu saja sangat berdampak, biasanya sehari beli minyak Rp25 ribu cukup, sekarang beli Rp35 ribu baru bisa cukup sehari," ungkapnya kepada TribunPadang.com, Jumat (9/9/2022).

Kata Saparudin, dalam satu hari mengojek  ia mendapat penghasilan rata-rata Rp75 ribu.

"Sehari Rp75 ribu atau sampai Rp100 ribu kalau ramai, lalu itu juga termasuk beli minyak Pertalite, jadi otomatis uang yang dibawa pulang berkurang karena harus lebih mahal beli minyak," ujar ayah dari dua anak tersebut.

Baca juga: Kapolres Sijunjung Kembali Salurkan Bantuan Sembako Kepada Masyarakat Nagari Koto VII

Dikatakannya, menjadi tukang ojek merupakan ujung tombak penghasilan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, karena tidak ada lagi mata pencarian lain yang ia miliki.

"Sekarang menjadi ojek merupakan satu-satunya pekerjaan saya saat ini, biasanya ada proyek jadi tukang bangunan  tapi sekarang tidak ada," tutur Saparudin.

Ia menjelaskan, saat harga BBM yang sudah naik, para penumpang masih membayar dengan ongkos atau tarif yang sama sebelum harga BBM naik.

"Kami sudah meminta tambah tarif ongkos kepada penumpang, tetapi mereka  masih membayar seperti biasa, mau bagaimana, tidak mungkin dipaksa, apalagi anak sekolah, tidak mungkin kita paksa harus bayar lebih," ucapnya.

Saparudin mengungkapkan, untuk menyiasati penggunaan BBM, ia tidak lagi melansir penumpang (mencari penumpang langsung di jalan).

Baca juga: 26 Kelompok Tani di Sijunjung Terima Bantuan Alsintan, Iraddatillah: Memperkuat Sektor Pertanian

"Sekarang terpaksa hanya menunggu di pangkalan saja, kalo melansir atau putar-putar mencari penumpang akan menghabiskan banyak minyak, jadi kalo tidak ada yang ke pangkalan juga tidak ada penghasilan," jelas Saparudin.

Ia berharap, bantuan-bantuan dari pemerintah seperti PKH, KIS atau bantuan lainnya, bisa ia dapatkan untuk kebutuhannya sehari-hari.

"Kami tidak dapat bantuan seperti PKH, KIS atau apapun bentuknya, kami berharap kedepannya kami bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah, kalaupun minyak tidak bisa turun, setidaknya ada bantuan untuk kami," imbuhnya.

Menurutnya, pembagian bantuan tersebut harus tepat sasaran, karena dirinya sendiri yang kehidupannya susah tidak dapat bantuan tersebut.

"Bantuan tentu kami butuhkan, terakhir itu ada bantuan beras 10 Kg dari Polres Sijunjung, Alhamdulillah sangat membantu, uang yang semulanya untuk membeli beras, bisa kami gunakan untuk keperluan lain, seperti kebutuhan anak-anak," ucap Saparudin.(*)

Sumber: Tribun Padang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved