Wisata Sumatera Barat

Wisata Sumatera Barat: Menilik Sejarah Benteng Fort de Kock, Peninggalan Belanda di Bukittinggi

Salah satu destinasi wisata Sumatera Barat yang kental akan sejarahnya adalah benteng Fort de Kock. Benteng ini terletak di kota Bukittinggi.

Tayang:
Editor: Mega Satriani Purwaningtyas
Wikipedia
Benteng Fort de Kock merupakan salah satu destinasi wisata Sumatera Barat yang menarik untuk dikunjungi. Bangunan yang terletak di Bukittinggi ini merupakan tempat pertahanan Belanda saat perang Padri. 

TRIBUNPADANG.COM - Benteng Fort de Kock merupakan salah satu benteng peninggalan Belanda di Bukittinggi.

Tepatnya di Jalan Yos Sudarso, Benteng Ps. Atas, Kecamatan Guguk Panjang, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

Pada awalnya, Benteng Fort de Kock dinamai 'Sterreschans' yang artinya benteng pelindung.

Namun saat ini, kawasan benteng telah dipugar oleh pemerintah daerah dan berubah menjadi Taman Kota Bukittinggi dan menjadi salah satu destinasi wisata di Sumatera Barat.

Benteng Fort de Kock didirikan sekitar tahun 1826 oleh seorang kapten bernama Johan Heinrich Conrad Bauer.

Baca juga: Tempat Wisata Padang, Kuliner Roti Tenong Khas Padang Panjang yang Bisa Ditemukan di Pasar Baru

Baca juga: Wisata Sumatera Barat: Menikmati Keindahan Pantai Cermin Kota Pariaman yang Punya Warna Pasir Unik

Benteng ini kemudian menjadi tempat bersejarah atas kegigihan pasukan Padri yang dipimpin oleh Imam Bonjol dalam melawan pasukan Hindia Belanda.

Nama Fort de Kock sendiri diambil dari nama Baron Hendrik Merkus de Kock, komandan der Tropen dan wakil gubernur jenderal Hindia Belanda saat itu, yang berkedudukan di Bukittinggi.

Kapten Bouer membangun Benteng Fort de Kock sebagai kubu pertahanan bagi lima desa adat yang ada di sekitar bukit dari Perang Padri yang telah bergejolak selama satu dekade lebih.

Di sisi lain, keberadaan benteng ini menjadi tanda bahwa Belanda telah menanamkan kekuasaan di wilayah Bukittinggi, Agam, dan Pasaman.

wisata228221
Peninggalan Benteng Fort de Kock

Seperti diketahui, ketika konflik antara kelompok adat dan kaum muslim meluas menjadi Perang Padri, kelompok adat yang mulai terdesak meminta bantuan kepada Belanda.

Sebagai imbalan atas keterlibatannya, Belanda meminta izin untuk membangun benteng di Bukit Jirek, yang kemudian dikenal sebagai Benteng Fort de Kock.

Dalam perkembangannya, Belanda yang berhasil membantu kelompok adat memenangkan perang, juga mengambil alih 75 persen wilayah di daerah tersebut dan membangun kota baru yang dinamai Fort de Kock.

Baca juga: Berikut 5 Rekomendasi Tempat Wisata Sejarah di Kota Padang

Baca juga: Wisata Sumatera Barat: Menyaksikan Atraksi Silek Lanyah di Desa Wisata Kubu Gadang Padang Panjang

Setelah kemerdekaan, nama kota tersebut berganti nama menjadi Kota Bukittinggi.

Sayangnya, saat ini bangunan fisiknya sudah hancur, hanya tersisa pondasi berbentuk persegi empat dan bak air.

Selain itu, ada pula delapan buah meriam besi yang kini dipasang di sekeliling area bekas benteng.

Sementara pada bagian luarnya dibatasi oleh parit melingkar sedalam satu meter dengan lebar sekitar tiga meter.

Keadaan Benteng Fort de Kock setelah direnovasi pada 2002 mengalami banyak perubahan.

Penampilannya saat ini berupa bangunan setinggi 20 meter yang dilengkapi dengan meriam peninggalannya.

(TribunPadang.com)

Sumber: Tribun Padang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved