Citizen Journalism

Kisah Inspiratif Ngatinah: Potret Transmigran yang Memulai dari Berkebun, hingga Jualan Tempe

SOSOK Mbah Ngatinah atau yang sering disapa dengan Mbah Nah, merupakan seorang transmigran asal Jawa Tengah yang berjualan tempe dan kini

Editor: Emil Mahmud
ISTIMEWA
Ngatinah atau yang sering disapa dengan Mbah Nah, merupakan seorang transmigran asal Jawa Tengah yang berjualan tempe dan kini tinggal di daerah Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. 

Citizen Journalism oleh: Afifah Rabiatul Layalia *)

SOSOK Mbah Ngatinah atau yang sering disapa dengan Mbah Nah, merupakan seorang transmigran asal Jawa Tengah yang berjualan tempe dan kini tinggal di daerah Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi.

Beliau dipindahkan dari daerah asalnya atas peraturan pemerintah guna pemerataan penduduk pada masa itu.

Beliau bertransmigrasi bersama suami dan anaknya yang baru berusia 1 tahun. Kemudian, Mbah Nah dikaruniai dua orang anak beberapa tahun setelahnya.

Kini, beliau hanya tinggal berdua bersama suaminya, Mbah Parman atau sering disapa dengan Mbah Man. Mbah Nah berjualan tempe di daerahnya karena ingin mendapatkan penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Beberapa tahun silam, Mbah Ngatinah bertransmigrasi sejak Tahun 1976 dari tempat asalnya untuk pemerataan penduduk. Seiring itu, program itu juga dalam rangka membuka lahan di Pulau Sumatera yang pada saat itu sebagian masih hutan belantara.

Para transmigran tersebut diberikan sebidang tanah yang cukup luas untuk dikembangkan menjadi pemukiman, perkebunan karet, serta perkebunan kopi dan cengkeh.

"Ketika itu kami dikasih tanah 3 hektare/Ha, tapi ndak berani bikin sertifikat. Masih punya pemerintah,” ujar Mbah Nah.

Mbah Nah dan para transmigran lainnya mengoptimalkan sebidang tanah yang diberikan pemerintah dengan baik. Hal tersebut ditandai dengan melimpahnya hasil bumi dari tanaman yang mereka tanam.

“Dulu saya waktu pertama tinggal disini (Rimbo Bujang) kerjanya di kebun sama bapak (Suami). Tanam karet, pari (padi), kopi, cengkeh, sama sayur-sayuran. Yaa buat dijual sama di makan sendiri” ujar Mbah Nah dengan logat Jawa yang masih jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, tanaman karet yang semakin tua maka semakin sedikit pula getah yang dihasilkan.

Kendati demikian, tanaman karet yang beliau punya masih tetap disadap atau diambil getahnya namun tidak sesering dahulu.

Lanjutnya, Mbah Ngatinah memilih berjualan tempe untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Dirinya lebih memilih berjualan tempe, walaupun hasil yang beliau peroleh tidak begitu besar.

“Hasil dari nderes (sadap karet) ndak sebanyak dulu waktu karetnya masih muda. Sekarang karetnya udah tua, hasilnya sedikit. Sekarang Alhamdulillah bisa bikin tempe, buat tambah-tambah” ujarnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved