Citizen Journalism

Menggugat Ketidakadilan terhadap Kaum Perempuan: Antara Kesetaraan Gender dan Realitas

TIDAK ada seorang pun yang bisa memilih ingin dilahirkan sebagai laki-laki, atau perempuan. Begitu juga dengan kenyataan, tidak ada satupun perempuan

Editor: Emil Mahmud
tribunnews
Ilustrasi: Hari Perempuan internasional 

Citizen Journalism Oleh: Meyke Laura M *)

TIDAK ada seorang pun yang bisa memilih ingin dilahirkan sebagai laki-laki, atau perempuan. Begitu juga dengan kenyataan, tidak ada satupun perempuan yang ingin menjadi korban kekerasan seksual dari lawan jenis.

Sampai saat ini keadilan pun masih sangat sulit didapat oleh seorang perempuan, tidak hanya di Indonesia bahkan juga di negara lainnya.

Dikutip dari sebuah artikel, yang ditulis oleh Aisyah Putri pada website DP3ACSKB (Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Catatan Sipil, dan Keluarga Berencana) Kepulauan Bangka-Belitung atau Babel, terdapat 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di seluruh Indonesia.

Di ranah kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan menempati posisi tertinggi sebanyak 1.389 kasus, diikuti pencabulan sebanyak 1.266 kasus.

Pada ranah komunitas, kekerasan seksual masih menempati peringkat pertama sebanyak 2.290 kasus. Hal yang perlu digarisbawahi dari jumlah tersebut adalah bahwa data tersebut diperoleh karena korban melakukan laporan atau gugatan secara hukum. Hal itu, belum termasuk kasus-kasus yang tidak dilaporkan oleh korban maupun keluarga korban.

Dan, entah berapa jumlahnya, dan beberapa dari pelaku kekerasan seksual tersebut masih bisa beraktifitas. Bahkan, masih leluasa seperti biasa tanpa harus menerima hukuman karena disadari oleh realitas yang ada.

Bahwasanya, jika korban mereka akan berfikir panjang sebelum melapor, karena hal itu diduga akan merugikan si korban itu sendiri.

Tidak bisa dipungkiri bahwa di negara kita sendiri pun perempuan sering kali ditempatkan pada posisi kedua, anggapan bahwa seorang perempuan adalah sosok yang selalu harus tunduk dan patuh dalam segala hal.

Bahkan, dalam berbagai masyarakat atau kalangan tertentu, beberapa nilai atau adat kebiasaan yang mendominasi kaum laki-laki seakan tidak bisa diubah.

Pola pikir tersebut sangat memengaruhi pandangan masyarakat akan kedudukan yang layak bagi perempuan, dan tak jarang perempuan menjadi kaum yang teraniaya dalam masyarakat.

Baca juga: Peringati Hari Kartini, Pegawai PLN yang Perempuan Turun Langsung, dan Kerjakan Site Proyek

Kisah RA Kartini dalam komik Pejuang Emansipasi Perempuan
Ilustrasi: Kisah RA Kartini dalam komik Pejuang Emansipasi Perempuan (Istimewa/Pendidikan.id)

Baca juga: Sederet Perempuan yang Mewarnai Dunia Sastra di Indonesia, Memberi Ruang Bagi Suara Kaum Feminim

Stereotype itu sendiri berarti pemberian citra baku atau label kepada seseorang atau kelompok.

Hal itu didasarkan pada suatu anggapan, yang keliru namun sudah terjadi berpuluh tahun yang lalu.

Citra baku ini biasanya dilakukan dalam dua hubungan atau lebih dan seringkali digunakan sebagai alasan untuk membenarkan suatu tindakan dari satu kelompok atas kelompok lainnya yang sebenarnya tidak adil atau bahkan salah.

Semua bentuk ketidakadilan gender yang penulis bahas di atas sebenarnya terjadi, karena adanya suatu sumber kekeliruan yang sama. Utamanya, yaitu ketimpangan kekuasaan antara kaum laki-laki dan perempuan.

Seringkali ketimpangan ini ditimpakan kepada kaum perempuan seperti perempuan selalu dianggap cengeng, suka digoda, tidak rasional, tidak bisa mengambil keputusan penting.

Kenyataannya atau realitasnya, justru tidak semua perempuan seperti itu kemudian stereotype turun temurun. Akhirnya, seorang perempuan kodratnya akan selalu menjadi ibu rumah tangga tanpa bisa mencari nafkah seperti laki-laki.

Sedangkan, bagi laki-laki dianggap sebagai pencari nafkah utama dan akan selalu diagungkan hingga membuat ketidakadilan sikap bagi para kaum perempuan.

Padahal seorang laki-laki yang selalu dianggap dominan tersebut pun juga lahir dari dalam rahim seorang perempuan.(*/ Penulis, adalah Mahasiswa Prodi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved