Apa Itu FOMO? Sindrom Orang Merasa Ketinggalan Kabar Terbaru Jika Tak Ikuti Media Sosial

FOMO adalah kondisi seseorang kerap merasa khawatir akan ketinggalan kabaa atau trend yang sedang berlangsung di jagat maya.

Penulis: Nika Afrilia | Editor: afrizal
tribunnews
ilustrasi bermain handphone 

TRIBUNPADANG.COM - Di zaman sekarang ini, media sosial menjadi tontonan semua orang.

Berbagai informasi dapat diperoleh melalui media sosial hanya dengan menggulirkan layar handphone.

Aktivitas ini bahkan menjadi keharusan dalam rutinitas seseorang, tidak sedikit orang yang kecanduan bermain handphone dan media sosial.

Baca juga: Alasan Youtuber Tasyi Athasyia tak Tunjukan Wajah Anak, karena Takut Kena Ain, Apa itu Penyakit Ain?

Hal ini tentu akan berdampak negatif jika tidak diantisipasi.

Membatasi penggunaan media sosial pada smartphone memberikan banyak manfaat bagi kesehatan jiwa penggunanya.

Dilansir dari Tribunnews.com, Psikolog Klinis Dra Astrid Regina Sapile mengatakan, pembatasan penggunaan smartphone juga mencegah dari risiko terkena sindrom Fears of Missing Out (FOMO).

FOMO, kata Astrid merupakan situasi orang yang merasa akan ketinggalan kabar terbaru jika tidak mengikuti media sosial.

Kebanyakan orang takut tidak bisa bergabung dengan media sosial.

Karena nantinya tidak bisa mengobrol dengan orang lain karena ketinggalan isu.

Menurut Astrid, saat guru memberikan tugas pada anak lewat internet, orang tua perlu melakukan pendampingan.

Ketika pekerjaan rumah selesai, akhiri penggunaan gawai.

Hal ini bertujuan agar si anak hanya merasa jika gadget adalah alat bantu mereka untuk belajar.

Saat belajar usai, mereka akan baik-baik saja tanpa gadget.

Astrid menuturkan, segala informasi bisa dicari lewat search engine.

Dengan kemampuan tekonologi, setiap orang bisa mempunyai informasi.

Kecemasan akan ketertinggalan trend ini disebabkan karena gaya hidup orang-orang di luar sana yang kemudian kita ikuti.

Bahkan ikut-ikutan trend seperti ini membawa kita pada investasi bodong yang merugikan.

Astrid menyarankan agar membiasakan diri untuk tidak menelan bulat-bulat informasi yang diterima.

Harus ada filter yang menyaring informasi masuk, sehingga tidak mudah terbawa, karena yang bisa membatasi hanya diri sendiri.(*)

Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved