Citizen Journalism

Sederet Perempuan yang Mewarnai Dunia Sastra di Indonesia, Memberi Ruang Bagi Suara Kaum Feminim

DALAM dunia sastra di Indonesia yang didominasi oleh laki-laki, banyak nama-nama penulis karya fiksi, serta pengarang, sekaligus penyair yang telah be

Editor: Emil Mahmud
ISTIMEWA/DOKUMENTASI
Ilustrasi: Pusat Bahasa Unand 

Citizen Journalism Oleh: Salima Ananda Putri *)

DALAM dunia sastra di Indonesia yang didominasi oleh laki-laki, banyak nama-nama penulis karya fiksi, serta pengarang, sekaligus penyair yang telah bersanding rekognisi atas karya-karya mereka yang gemilang.

Sejauh ini mereka yang berasosiasi dengan literatur klasik seperti Marah Roesli, Pramoedya Ananta Toer, hingga penyair Chairil Anwar ataupun penulis terkenal seperti Andrea Hirata.

Namun, para pembaca disuguhkan sudut pandang lain oleh para penulis perempuan yang memiliki citra tersendiri di dunia sastra di Indonesia.

Melalui tulisan-tulisan mereka, para penulis perempuan memberi ruang bagi suara mereka untuk terdengar, sehingga para pembaca dapat melihat isu-isu yang sebelumnya luput dalam konsiderasi mereka.

Salah satu penulis perempuan yang namanya terangkat dalam dunia sastra Indonesia adalah Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin, yang biasa dikenal dengan Nh. Dini.

Beliau adalah seorang sastrawan dan penggiat feminisme yang menyuruakan ketimpangan nasib yang dialami perempuan akibat sistem sosial patriarki melalui karya-karyanya seperti Orang-orang Tran (1983), Pada Sebuah Kapal (1972), dan Dari Parangakik ke Kampuchea (2003).

Alhasil, dari kumpulan karya tersebut, beliau menyoroti ketidakadilan terhadap perempuan dan perempuan-perempuan dari sudut pandang lawan jenis.

Isu mengenai kesetaraan gender ataupun ketimpangan yang dihadapi perempuan juga disuarakan dalam novel terbaru karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie yang berjudul Tiga Dalam Kayu (2022).

Jika sesuatu yang bersangkut-paut dengan perempuan kerap kali dihubungkan dengan adjektif lemah lembut dan segala sesuatu yang tidak kasar, maka Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie mematahkan argumen tersebut dengan buku Tiga Dalam Kayu miliknya.

Ziggy tidak segan-segan untuk menulis kumpulan cerpen dalam novel dengan deskripsi narasi yang brutal nan sadis ketika membicarakan perempuan di Tiga Dalam Kayu sehingga dapat dirasakan pilunya menjadi seorang perempuan yang harus menghadapi ironi-ironi yang tidak dapat mereka elakkan.

Tidak hanya isu mengenai kesetaraan gender, penulis perempuan Indonesia juga mencurahkan pandangan mereka terhadap kejadian bersejarah Indonesia seperti Leila S. Chudori dengan novelnya Pulang (2013) dan Laut Bercerita (2017).

Baca juga: FIB Unand Ajukan Program Studi Sastra Indonesia, dan Sastra Jepang untuk Berakreditasi Internasional

ilustrasi-perempuan
ilustrasi-perempuan (tribunnews)

Baca juga: Fakultas Ilmu Budaya Unand Berduka, Doktor Gusdi Sastra Meninggal Dunia di RSUP M Djamil Padang

Leila S Chudori mengangkat tiga peristiwa bersejarah: Gerakan 30 September 1965, Prancis pada Mei 1968, dan Kerusuhan Mei 1998 untuk melatari novel Pulang dan menggarap Laut Bercerita dengan kisah tentang cerita persahabatan, cinta dan keluarga yang mencari berita mengenai hilangnya seorang anak tanpa titik terang; berdasarkan peristiwa pada tahun 1998 di mana terjadi puncak gerakan mahasiswa dan aktivisme-aktivisme yang terjadi kala itu.

Pun juga dengan karya-karya sastra tersohor milik Dee Lestari, Ayu Utami, serta Ika Natassa yang berhasil meraih penghargaan bergengsi dalam kategori literatur serta beberapa dari mereka yang diangkat ke layar lebar.

Sehingga banyak warna-warna yang dibawakan oleh penulis perempuan Indonesia yang turut menyemarakkan dunia sastra Indonesia dan menjadikan mereka inspirasi bagi berbagai kalangan masyarakat di Indonesia.(Penulis, Mahasiswa Prodi Sastra Inggris, Universitas Andalas)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved