Opini Citizen Journalism

Antara Kisah Inspiratif dan Opini: Kamu Kejam, tidak Objektif, dan Saya Bagaimana?

Penulis sangat menyukai kutipan yang entah siapa yang menuliskannya. Secara jelas, dalam kutipan ini terkandung pesan yang sangat dalam. Maju dan

Editor: Emil Mahmud
Tribunnews.com
Ilustrasi Bekerja 

Sudah disakiti sedemikian rupa, dia masih memaafkan dan membalasnya dengan kebaikan.

Kedua adalah kisah tentang seorang sahabat yang senantiasa membangun pikiran positif untuk setiap keadaan.

Hingga di suatu saat dia diberi amanah untuk menjadi leader  dalam sebuah tim. Dengan niat ibadah, amanah diterima sahabat ini.

Dalam perjalanannya menjadi leader, sahabat ini selalu berpegang pada aturan dan berusaha selalu untuk on the track.

Beberapa kali ada pihak yang mencoba mencari titik lemahnya, sahabat ini bisa melawati. Semua itu tidak lepas dari niatnya dari awal menerima amanah itu sebagai sebuah ibadah.

Selain itu, tidak ada personal interest  yang dijalankan kecuali menjalankan amanah dengan baik.

Hingga suatu ketika, saat memimpin sebuah pertemuan, sahabat ini dikejar dan selalu dijadikan sebagai bantalan untuk semua persoalan yang terjadi dalam tim itu.

Sahabat ini tetap tersenyum dalam menerima itu. Baginya, dijadikan bantalan adalah konsekuensi dari sebuah pilihan, yaitu menerima menjadi leader.

Sepertinya, orang ini tidak puas sehingga bergerak lebih jauh dengan mengirim pesan pribadi lewat media soail dan menyebut sahabat ini kejam dan tidak objektif.

Saat penulis pastikan respon sahabat ini. Dia tidak terlihat marah, tetapi hanya senyum. ‘Saya ucapkan terima kasih, ‘jelas sahabat ini. Sungguh penulis surprised karena sahabat ini terbilang sabar merespon pesan yang sudah pasti menyakitkan.

Baca juga: FIB Unand Ajukan Program Studi Sastra Indonesia, dan Sastra Jepang untuk Berakreditasi Internasional

Ilustrasi Bekerja
Ilustrasi Bekerja (Tribunnews.com)

Baca juga: Indahnya Baso

Setelah disaripatikan, kedua kisah di atas bermuara pada adanya orang atau sekelompok orang yang ingin memenuhi ambisi pribadi dengan cara menghalalkan segala cara.

Ambisi pribadi ini di antaranya adalah keinginan untuk memperoleh jabatan atau harta, tetapi dialukakan dengan cara keliru.

Dalam beberapa referensi yang penulis baca dan pengamatan yang dilakukan, dalam konteks pemerolehan keinginan, manusia itu dibagi atas tiga.

Pertama, menghalalkan segala cara untuk memenuhi ambisi pribadi;

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved