Breaking News:

Tiga Catatan Pengamat Politik Hardi Putra Wirman soal Pidato Megawati sebut Sumbar Berubah

Pengamat politik IAIN Bukittinggi, Hardi Putra Wirman turut menanggapi pidato Megawati pada HUT ke-49 PDI Perjuangan yang menyebut Sumatera Barat (Sum

Penulis: Wahyu Bahar | Editor: Mona Triana
Dok. Pribadi
Pengamat Politik IAIN Bukittinggi Hardi Putra Wirman 

Laporan Wartawan TribunPadang.com, Wahyu Bahar

TRIBUNPADANG.COM - Pengamat politik IAIN Bukittinggi, Hardi Putra Wirman turut menanggapi pidato Megawati pada HUT ke-49 PDI Perjuangan yang menyebut Sumatera Barat (Sumbar) berubah.

Hardi mengatakan, setidaknya ada tiga catatan mengenai pidato Megawati yang tersebut.

Pertama, pidato Politik Megawati yang menyinggung tentang tradisi musyawarah mufakat di Sumbar merupakan bentuk kritik dan sekaligus otokritik bagi masyarakat khususnya elit politik di Sumbar.

Baca juga: Megawati sebut Sumbar Berubah, Ketua DPD BMI Sumbar: Keprihatinan Terhadap Kampungnya

Baca juga: Pernyataan Megawati soal Sumbar telah Berubah, Jubir : Suka atau Tidak Suka, Jadi Bahan Introspeksi

"Tradisi musyawarah dan mufakat tempat mengagregasi perbedaan pendapat apakah masih seperti dulu?," ujar dosen IAIN yang bergelar Doktor di bidang Ilmu Politik ini. Kamis (13/1/2022).

Kemudian, kata dia, lanjutan kalimat yang diucapkan Megawati 'Sumbar kok jadi sepi ya' bisa ditafsirkan dalam beberapa hal.

Kalimat tersebut menurutnya merupakan sentilan bagi kader-kader PDI P di Sumbar.

Baca juga: Saran Asrinaldi untuk Pemda terkait Pernyataan Megawati soal Sumbar yang Sudah Berubah

Baca juga: Sering Soroti Sumbar, Gubernur Mahyeldi jadi Ingin Ketemu Megawati dan Puan Maharani

"Mengapa suara PDI P begitu sepi di Pileg kemarin (2019), dan PDI P tidak mampu mewarnai dinamika politik di Sumbar. Tentu menjadi tantangan bagi kader PDI P di Sumbar ke depan," jelas dia.

Kedua, makna 'Sepi' menurutnya juga bisa dikaitkan dengan kondisi Pandemi Covid-19, karena Sumbar termasuk salah satu provinsi yang capaiannya vaksinasinya masih rendah dari daerah lain.

"Sumbar dianggap paling rendah dalam hal capaian vaksinasi, tentu ini juga dianggap sebagai bentuk tanggung jawab dari niniak mamak atau elit politik dalam memberikan penyadaran (pentingnya vaksinasi) terhadap masyarakat," imbuh Hardi.

Baca juga: Dikritik Megawati Sumbar Sudah Beda Dibandingkan Dulu, Gubernur Mahyeldi: Saya Ingin Bertemu

Halaman
123
Sumber: Tribun Padang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved