Breaking News:

Webinar BPNB dan MSI Sumbar: Jalur Rempah Internasional Ajang Pertukaran Ilmu, Budaya, dan Agama

Jalur rempah bukan semata perdagangan rempah-rempah yang bersumber dari nusantara, melainkan juga pertukaran ilmu, budaya, dan agama.

Editor: Emil Mahmud
ISTIMEWA/DOK.HUMAS MSI SUMBAR
Suasana saat pelaksanaan Webinar Jalur Rempah Internasional, yang diselenggarakan oleh Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat (Sumbar) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Sumbar, Sabtu (9/10/2021). Terlihat di layar Kepala BPNB Sumbar, Undri menyampaikan sambutan di antara ratusan partisipan yang hadir dalam seminar secara virtual dengan nara sumber yang kompeten di bidangnya, satu di antaranya Prof Azyumardi Azra. 

Dalam masa pasca-Abbasiyah, tulis Azyumardi dalam makalahnya, pengembara Eropa mulai mencari jalur sutera. Christopher Columbus yang berlayar ke arah barat guna menemukan rempah-rempah; sebaliknya Vasco de Gama yang berlayar ke arah timur untuk tujuan yang sama; atau Magellan yang menyeberangi Lautan Fasifik dengan niat yang lagi-lagi sama.

“Menyimak semua ini, bisa dipahami kenapa akhirnya kekuatan-kekuatan Eropa terlibat dalam pertarungan, kontestasi dan perang untuk menguasai rute perdagangan dan sekaligus bumi penghasil rempah-rempah—terutama Nusantara.

Kedatangan kolonialisme Eropa yang menerapkan monopoli perdagangan rempah dan komoditas lain tak bisa lain kecuali mengakibatkan retardasi perdagangan dan ekonomi masyarakat lokal,” bebernya.

Selain itu, kata Azyumardi, jalur rempah memainkan peran penting dalam menumbuhkan ‘kosmolitanisme Islam’ baik di tingkat lokal wilayah kesultanan atau kerajaan tertentu maupun pada level Kepulauan Nusantara secara keseluruhan.

“Dengan kosmopolitanisme Islam, suku-suku, kekuasaan lokal (kesultanan atau kerajaan) yang bisa disebut sebagai ‘mikrokosmos’ terekrut dan terintegrasi ke dalam ‘makrokosmos’ atau lingkungan global dan internasional lebih luas,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan, soal hasrat China untuk menghidupkan narasi Jalur Sutra Maritim yang menyasar wilayah selatan China.

"Presiden Jokowi juga ingin menjadikan Indonesia sebagai ‘poros maritim’ (maritime axis) di antara Lautan India dan Lautan Pasifik. Sayangnya, sebagaimana Jokowi mengakuinya, rencana dan pengembangan dunia maritim Indonesia ‘hanya’ merupakan pelengkap sepenuhnya (full complementary) rencana dan program China tentang ‘jalur sutra maritim’. Hasilnya, Menlu China berjanji, bakal sepenuhnya berpartisipasi aktif dalam pembangunan Indonesia sebagai kuasa maritim,” ujarnya.

Pembicara lain di webinar ini, sejarawan dari UIN Raden Intan Lampung Abd. Rahman Hamid mengatakan, perdagangan dan jalur rempah telah menjadi pemicu penyebaran agama (Islam) ke Nusantara bagian Timur yang menempatkan orang Melayu sebagai satu di antara aktor utamanya (Rempah dan Islamisasi).

“Peran penting orang Melayu dalam memacu perkembangan kota-kota pelabuhan di jalur rempah Nusantara, khususnya Makassar dan Bima,” ujar Abd Rahman Hamid.

Sosialisasi Jalur Rempah

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved