Breaking News:

MUI Sumbar Tidak Setuju Kegiatan Keagamaan Ditiadakan Selama PPKM Mikro di 4 Daerah Sumbar

Pemerintah pusat memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro untuk 43 kabupaten dan kota atau pada 20 provinsi di luar Jawa

Penulis: Rizka Desri Yusfita | Editor: Mona Triana
TribunPadang.com/Rizka Desri Yusfita
Ketua MUI Sumbar Gusrizal Gazahar saat ditemui, Rabu (7/7/2021) 

Laporan Wartawan TribunPadang.com, Rizka Desri Yusfita

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Pemerintah pusat memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro untuk 43 kabupaten dan kota atau pada 20 provinsi di luar Jawa dan Bali.

Dari 43 kabupaten/kota tersebut, empat daerah diantaranya berada di Sumatera Barat (Sumbar) yaitu, Padang, Bukittinggi, Padang Panjang dan Kota Solok.

Dalam kebijakan itu, kegiatan keagamaan di masjid, musala, gereja, pura, wihara dan tempat ibadah lain untuk di level 4 sementara ditiadakan.

Baca juga: Wagub Audy Sebut 4 Kota Bakal Perketat PPKM Mikro: Padang, Padang Panjang, Bukittinggi, dan Solok

Baca juga: Pembelajaran Sekolah di Kota Padang Selama PPKM Mikro, Habibul Fuadi: Rapat dengan Satgas Covid-19

Ketua MUI Sumbar Gusrizal Gazahar tidak setuju adanya peniadaan ibadah atau menutup masjid selama kebijakan PPKM Mikro.

"Meniadakan ibadah di wilayah PPKM, kita tidak setuju. Kita tetap menyampaikan sesuai dengan Perda kita, karena ini Sumbar bisa menjadi rujukan oleh Pemda dalam menetapkan kebijakan keagamaan di wilayah PPKM, tetap dilaksanakan salat idul Adha dan ibadah," kata Gusrizal Gazahar, Rabu (7/7/2021).

Meski demikian, ia menegaskan bahwa masjid-masjid tetap wajib menerapkan protokol kesehatan ketat.

Baca juga: Padang Diminta Terapkan PPKM Mikro, Wali Kota: Surat Resmi Belum Ada, Tetapi Siap Ikuti Arahan

Baca juga: 4 Kota di Sumbar Laksanakan PPKM Mikro, Ini Sikap yang Akan Diambil Polda Sumbar

Baca juga: 4 Daerah di Sumbar Diminta Perketat PPKM Mikro, Wagub Audy Joinaldy: Jalankan Sesuai Perintah Pusat

"Kita akan cari formulasi agar prokes itu bisa berjalan, salah satunya mungkin tempat ibadah diperbanyak," sambungnya.

Menurutnya, hal itu juga perlu disinergikan dengan pihak terkait supaya prokes itu berjalan.

Gusrizal tak ingin ada ketimpangan, dimana di satu sisi ada kelonggaran, di sisi lain tidak.

Padahal yang diberi kelonggaran lebih berpotensi terjadinya penyebaran Covid-19.

Baca juga: UPDATE Corona Sumbar Rabu 7 Juli 2021 Pagi, Sudah 53.511 Warga Terinfeksi Covid-19, Ini Sebarannya

Baca juga: Kepala Laboratorium FK Unand Andani: Virus Corona Varian Delta, Diduga Sudah Masuk Sumbar

Baca juga: UPDATE Corona Sumbar Selasa 6 Juli 2021 Pagi, 677 Pasien Masih Dirawat di Sejumlah Rumah Sakit

"Kafe bisa beroperasi 25 persen, mal bisa 25 persen, di kafe malah untuk pergi ngomong-ngomong, orang jalan-jalan, sulit jaga jarak."

"Ini di masjid orang tidak ngomong satu sama lain. Ini kehadiran orang cuma sebentar di rumah Allah untuk beribadah," jelas Gusrizal Gazahar.

Baca juga: WHO Uraikan tentang Varian Baru Covid-19, Delta Termasuk Dalam 10 Varian Baru Virus Corona

Disebutkan Gusrizal, tempat ibadah seharusnya bisa menjadi sentra edukasi bagi masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan pencegahan virus corona yang tengah melonjak saat ini.

"Kita usulkan, agama jangan sekali-kali dipandang sebagai penghalang. Itu adalah salah satu ikhtiar kita untuk menghadapi pandemi. Kalau kita tidak dibantu Allah dalam menghadapi ini semua, kita semua lemah," tuturnya. (*)

Sumber: Tribun Padang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved