Breaking News:

VIRAL Fenomena Alam Waterspout di Danau Diatas Kabupaten Solok, Ini Penjelasan BMKG

Beredar sebuah video fenomena alam yang diduga angin puting beliung di Danau Diatas Alahan Panjang Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat (Sumba

Penulis: Rizka Desri Yusfita | Editor: Emil Mahmud
Kompasiana/Akbar Pitopang
Ilustrasi: Danau Diatas & Dibawah atau juga dikenal dengan Danau Kembar di Solok Selatan, Sumatera Barat. 

Laporan Wartawan TribunPadang.com, Rizka Desri Yusfita

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Beredar sebuah video fenomena alam yang diduga angin puting beliung di Danau Diatas, Alahan Panjang Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).

Sampai saat ini, beredarnya video rekaman tentang fenomena Waterspout di Danau Diatas Alahan Panjang, Kabupaten Solok, itu sempat viral di media sosial/Medsos.

Kepala seksi observasi dan informasi BMKG Padang Pariaman Yudha Nugraha menjelaskan fenomena alam tersebut biasanya disebut kejadiannya yakni waterspout.

"Iya kami mendapat laporan terjadi waterspout di daerah danau kembar," kata Yudha Nugraha.

Baca juga: Percepat Revitalisasi Danau Maninjau, Menko Maritim Luhut Minta Pengalihan Mata Pencarian Warga

Baca juga: Menikmati Pemandangan Danau Maninjau dari Lawang Park Adventure, Wisatawan Dibikin Takjub

Yudha mengungkapkan, waterspout merupakan fenomena cuaca yang sama seperti puting beliung, yang membedakan hanya lokasi kejadiannya.

Waterspout, kata dia, sejauh ini memang terjadi di wilayah perairan.

Adapun penyebab fenomena alam itu katanya berasal dari awan cumulunimbus dengan dasar awan hitam pekat.

Waterspout atau puting beliung tersebut terjadi akibat kondisi udara yang tidak stabil di dalam awan tersebut dan tekanan udara yang lebih rendah dibandingkan sekitarnya.

Sehingga terjadi aliran udara turun dan berputar sehingga terjadi pusaran angin yang cukup kencang dan bersifat merusak. 

"Waterspout terjadi dalam durasi yang relatif singkat, sehingga masih sulit untuk mendeteksi terjadinya, namun untuk proses pertumbuhan awan penyebab puting beliung masih dapat di monitor oleh radar cuaca," ungkap Yudha.

Yudha meminta warga yang berada di lokasi terbentuknya waterspout untuk menghindari lokasi.

Baca juga: Seluruh Korban Tenggelam di Danau Kandi Sawahlunto Dievakuasi, Diduga Sempat Swafoto di Dermaga

Hal ini mengingat kecepatannya dapat mencapai lebih dari 30 knots atau lebih dari 54km/jam sehingga bersifat merusak.

Yudha juga mengimbau agar masyarakat selalu mewaspadai kondisi cuaca yang berubah secara drastis dan signifikan, seperti pada saat pagi hari cuaca cerah.

Namun pada siang hingga sore hari, keadaan langit berubah menjadi gelap karena menjadi indikasi munculnya awan cumulonimbus yang dapat menimbulkan fenomena cuaca buruk seperti petir/kilat, angin kencang, puting beliung, hingga hujan es. (*)

Sumber: Tribun Padang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved