Harimau Tertangkap di Pariaman

Konflik Harimau dan Manusia, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Ungkap Sejumlah Faktor Penyebab

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menyebutkan beberapa faktor yang melatarbelakangi terjadinya konflik

Penulis: Rezi Azwar | Editor: Emil Mahmud
TRIBUNPADANG.COM/REZI AZWAR
Satu Harimau Sumatera setelah berhasil diperangkap lalu dievakuasi menggunakan kandang besi khusus berwarna silver oleh petugas BKSDA dibantu masyarakat, Senin (13/7/2020). 

Laporan Wartawan TribunPadang.com, Rezi Azwar

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menyebutkan beberapa faktor yang melatarbelakangi terjadinya konflik antara satwa Harimau dan manusia.

Sejauh ini,  konflik itu masih terjadi antara satwa dilindungi Harimau Sumatera dengan manusia di Sumatera Barat (Sumbar).

Sebelumnya, terjadi konflik antara Harimau Sumatera dan manusia atau warga di Nagari Gantung Ciri, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Provinsi Sumbar.

Harimau Ciuniang Nurantih Mengalami Luka Lecet, Ketahuan Seusai Evakuasi ke PR-HSD ARSARI

Berkunjung ke Rumah Nenek, Bayi di Pasaman Barat Tewas Setelah Jatuh ke Sumur 17 Meter

Pihak BKSDA berhasil mengevakuasi dua harimau yang bernama Putri Singgulung dan Putra Singgulung.

Hingga saat ini, kedua harimau tersebut dirawat di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PR-HSD) yang dikelola oleh Yayasan ARSARI Djojohadikusumo.

Harimau yang dievakuasi dari Padang Pariaman ke PR-HSD ARSARI, Selasa (14/7/2020).
Harimau yang dievakuasi dari Padang Pariaman ke PR-HSD ARSARI, Selasa (14/7/2020). (ISTIMEWA)

Namun, kembali terjadi konflik di Nagari Lubuk Alung, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumbar.

Evakuasi Harimau di Padang Pariaman Butuh Waktu 5 Jam, Belum Jelas Jantan Atau Betina

Harimau Sumatera Ngamuk setelah Masuk Perangkap, Telah Memangsa Kambing Milik Warga

Akibatnya, ada tujuh ekor kambing milik warga mati akibat diterkam satwa liar.

"Selanjutnya kami akan terus memonitor di lokasi ini (ditangkapnya Harimau Sumatera)," kata Kepaka Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Sumbar, Eka Damayanti, Senin (13/7/2020) lalu.

Kata dia, terjadinya konflik antara harimau dan manusia memang kerapkali yang telah ditanganinya.

Namun, tidak selalu dilihat dari sisi satawanya, karena dapat juga dilihat dari sisi luarnya atau masyarakat.

"Banyak sekarang daerah yang dahulunya hutan menjadi daerah terbuka, dan masyarakat banyak bermukim atau beraktivitas di daerah tersebut," ujar Eka.

Akhirnya, kata Eka pada saat adanya kemunculan satwa liar lalu menimbulkan konflik.

Sebaliknya, imbuh Eka  jika masyarakat tidak beraktivitas di lokasi kawasan habitat satwa liar tersebut, maka tidak akan ada terjadi masalah.

"Kalau untuk harimau yang tertangkap hari ini sudah berada di luar areal kawasan hutan lindung," katanya.

Disebutkannya, Harimau Sumatera koridornya terbentang dari Sumatera Utara sampai ke Lampung yaitu Bukit Barisan Selatan.

Ia mengatakan hutan lindung stutus fungsinya adalah mendukung habitat satwa liar.(*)

Sumber: Tribun Padang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved