Breaking News:

Sumbar Tanggap Darurat Corona

Corona Merebak, Bolehkah Salat Jumat Diganti Salat Zuhur? Begini Penjelasan Ketua MUI Sumbar

Ketua MUI Sumbar Gusrizal Gazahar mengatakan, di tengah pandemi corona, penyelenggaraan ibadah tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Penulis: Rizka Desri Yusfita | Editor: Saridal Maijar
TRIBUNPADANG.COM/RIZKA DESRI YUSFITA
Ketua MUI Sumbar Gusrizal Gazahar saat ditemui di ruangan kerjanya, Kamis (19/3/2020). 

Gusrizal Gazahar menjelaskan, dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang, maka ia boleh meninggalkan salat Jumat dan menggantikannya dengan salat Zuhur di tempat kediaman.

Serta meninggalkan jamaah salat lima waktu/rawatib, Tarawih, dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya.

UPDATE Data Corona di Sumbar Kamis 19 Maret 2020: 1.503 Masuk ODP, 17 PDP Covid-19

"Intinya kalau orang berada dalam suatu keadaan, di mana daerahnya sampai ke tingkat zona merah, itu sudah wabah tidak terkendali, sudah terjangkit di mana-mana," tambah Gusrizal Gazahar.

Dia mengatakan, di dalam Islam itu ada rukhsah, keringanan di saat kondisi tertentu.

Kemudian, ketika seseorang berada di suatu kawasan yang potensi penularannya rendah berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia tetap wajib menjalankan kewajiban ibadah sebagaimana biasa.

Dia juga wajib menjaga diri agar tidak terpapar virus Corona, seperti tidak kontak fisik langsung (bersalaman, berpelukan, cium tangan), membawa sajadah sendiri, dan sering membasuh tangan dengan sabun.

14 Kabupaten Kota di Sumbar Putuskan Siswa Belajar di Rumah, Guru Diminta Siapkan Tugas

Dalam kondisi penyebaran Covid-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan salat Jumat di kawasan tersebut, sampai keadaan menjadi normal kembali dan wajib menggantikannya dengan salat Zuhur di tempat masing-masing.

Demikian juga tidak boleh menyelenggarakan aktivitas ibadah yang melibatkan orang banyak dan diyakini dapat menjadi media penyebaran Covid-19 seperti jamaah salat lima waktu/ rawatib, salat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim.

"Dalam kondisi penyebaran COVID-19 terkendali, umat Islam wajib menyelenggarakan salat Jumat," ujar Gusrizal Gazahar.

Terkait pengurusan jenazah (tajhiz janazah) terpapar Covid-19 terutama dalam memandikan dan mengkafani harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang, dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat.

Menkes Beri Izin Lab Biomedik FK Unand Diagnosa Covid-19, Gubernur: Tunggu Reagen dari Korea

Halaman
123
Sumber: Tribun Padang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved