Breaking News:

Dosen Sejarah Unand, Zaiyardam Zubir Tampil saat Seminar di Kampus USU Sebut; Ini Medan Bung!

Dosen Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dan Peneliti Pusat Studi Humaniora Universitas Andalas Padang (PSH-Unand), Dr Zaiyardam Zubir M Hu

Penulis: Emil Mahmud | Editor: Emil Mahmud
Istimewa/Repro:Facebook
Ilustrasi 

Sesampai di Medan awalnya, dia mendapati berbagai latar belakang etnis dan agama sesuai deretan nama-nama yang tlah disebutkan tadinya. Yakni, mereka mewakili berbagai etnis seprti Melayu, Minangkabau, Jawa, Arab, Batak, Aceh, Karo, Simalungun, Sunda, Mandahiling dan India.

"Dalam hati saya berkata: Inilah sesungguhnya Indonesia dengan berbagai keragaman yang dimilikinya. Walaupun begitu, solidaritas yang kuat sangat dirasakan selama hidup dan bergaul dengan berbagai kelompok dan etnis di Medan," papar Zaiyardam Zubir.

Lantas, Adam memaknai kata damai atau penuh dengan konflik?

"Ada masanya kompak dan ada masanya konflik. Konflik biasanya muncul, ketika terjadi perebutan kekuasaan seperti Senat Mahasiswa. Dalam konflik itu, bisa berjalan keras dan tidak jarang terjadi juga anarkis," jelas Zaiyardam Zubir.

Walaupun demikian, imbuh Adam karena waktu itu perebutan kekuasaan masih dalam skala kecil, benturan-benturan fisik ataupun yang bersifat anarkis tidaklah terlalu besar.

Buku Terbitan RPP Press KPU Padang, Perempuan Dalam Mimbar Demokrasi Dibincangkan

"Konflik yang ada masih riak-riak kecil, yang dengan mudah dipadamkan. Berbeda jika kekuasaan sudah besar ataupun menyangkut harta dalam jumlah besar, maka baru gejolak itu semakin panas, tinggi dan menelan banyak korban," ujar Zaiyardam Zubir.

Jelas sekali, kata Zaiyardam Zubir bahwa korban itu biasanya menimpa rakyat kecil yang tidak bersalah dan tidak mengetahui tentang perebutan kekuasaan tingkat tinggi.

Dalam seminar sehari itu, Zaiyardam Zubir menilai bahwa forum diskusi kali ini mencerahkan secara keilmuan Sejarah dan baginya momentum romantisisme.

Sebagaimana diungkapnya, momentum untuk mengingat masa lalu, yang terdiri dari kenangan indah, pahit getir, suka duka dan lain sebagainya guna bekal menatap masa depan yang lebih baik.(*)

Sumber: Tribun Padang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved