Sumbar

CATAT! AGUSTUS 2019, Kota Padang Deflasi 0,10 Persen, Kota Bukittinggi Inflasi 0,24 Persen

Pada Agustus 2019 terjadi deflasi sebesar 0,10 persen di Kota Padang dan terjadi inflasi 0,24 persen di Kota Bukittinggi,

CATAT! AGUSTUS 2019, Kota Padang Deflasi 0,10 Persen, Kota Bukittinggi Inflasi 0,24 Persen
TribunPadang.com/Rizka Desri Yusfita
Kepala BPS Sumatra Barat (Sumbar) Sukardi 

Agustus 2019, Kota Padang Deflasi 0,10 Persen, Bukittinggi Inflasi Sebesar 0,24 Persen

Laporan Wartawan TribunPadang.com, Rizka Desri Yusfita

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Pada Agustus 2019 terjadi deflasi sebesar 0,10 persen di Kota Padang dan terjadi inflasi 0,24 persen di Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, Sukardi memaparkan komoditas yang memiliki andil terbesar terjadinya deflasi di Kota Padang ialah bawang merah 26,60 persen dan angkutan udara 15,43 persen.

"Selain bawang merah dan angkutan udara, komoditas lain penyumbang deflasi yaitu Daging Ayam ras, Tomat sayur, Papaya, Jengkol, Bawang Putih, Ikan Tongkol atau Ambu-ambu, Udang basah, dan Jeruk," kata Sukardi di Padang, Senin (2/9/2019).

Sukardi mengatakan, komuditas yang mengalami kenaikan harga di Kota Padang adalah cabai merah, emas perhiasan, biaya sekolah dasar, kentang, lalu Beras naik sedikit, Cabai Hijau, Kacang panjang, Telur Ayam ras, Buncis dan Anak Sala.

Sementara di Kota Bukittinggi, cabai merah masih mengalami kenaikan harga yang cukup besar sehingga memberikan andil terhadap inflasi.

Kemudian diikuti biaya sekolah menengah pertama, emas perhiasan, kentang, dencis, sekolah dasar, belut, mobil, ketimun, dan buncis.

"Untuk cabai merah memang beberapa bulan ini naik, sehingga memiliki andil besar terhadap inflasi.

Lalu kalau untuk kenaikan biaya sekolah, baik sekolah dasar maupun sekolah menengah, itu karena tahun ajaran baru. Tahun ajaran baru itu biasanya memang naik," jelas Sukardi.

Sukardi juga menyebut, kenaikan harga cabai memiliki sangkut paut dengan musim.

"Musim kemarau di daerah Jawa menyebabkan produksi cabai turun sehingga harganya lebih mahal.

Kalau di Sumbar meskipun tidak musim kemarau produksinya masih tetap, mungkin di bawa ke Jawa dan Riau sehingga mengalami kenaikan harga di Sumbar," ungkapnya. (*)

Penulis: Rizka Desri Yusfita
Editor: Emil Mahmud
Sumber: Tribun Padang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved