Citizen Journalism

Bangga Menjadi Indonesia (Catatan HUT Bhayangkara RI)

PADA Tahun 1990-an dulu begitu laris manis film ACI (Aku Cinta Indonesia). Film ini bukan bicara soal

Bangga Menjadi Indonesia (Catatan HUT Bhayangkara RI)
IST/DOK.PENREM 032/WIRABRAJA
Danrem 032/Wirabraja, Brigjen TNI Kunto Arief Wibowo 

Penghuninyapun begitu ramah, murah senyum dan selalu tak bisa menolak jika ada orang berkunjung.

Isi rumah juga bukan hal yang sederhana.

Disitu ada emas, minyak, gas, batubara, kelapa, intan, dan berbagai kebutuhan seluruh umat di dunia ini.

Tak heran Indonesia jadi incaran dan penglihatan bagi semua orang.

Di satu sisi ini sebuah kebanggaan, tapi di sisi lain ini juga jadi ancaman.

Maling dan perompak sangat mungkin masuk jika rumah tak dijaga dengan baik.

Begitulah. Mengambil pengibaratan pada sebuah rumah juga, Indonesia bisa saja dirongrong oleh berbagai hal.

Rongrongan itu bisa dari dalam rumah sendiri, dari luar, atau sang penghuni yang bekerjasama dengan pihak luar untuk menguasai rumah tersebut.

Semua bisa terjadi, dorongan nafsu tamak, haus kekuasaan dan kekayaan, persaingan sesama penghuni, sangat bisa mengancam keutuhan pondasi rumah.

Terhadap rongrongan ini, kiranya sejarah sudah membuktikan semua itu.

Sejak sebelum merdeka, masa setelah kemerdekaan, periode pembangunan, hingga ke era reformasi dan teknologi sekarang ini, berbagai dinamika selalu muncul.

Alasannya hanya satu, Indonesia ini begitu mempesona.

Tak heran jika kemudian beberapa penghuni rumah keluar dan membangun rumah sendiri. Timor Timur adalah contoh konkrit. 

Ancaman terhadap keutuhan rumah Indonesia, bisa dalam bentuk fisik ataupun non fisik.

Secara fisik tampak dari bagaimana ekspansi negara asing di era sebelum merdeka maupun pasca kemerdekaan.

Ancaman ini nyata dan alhamdulillah semua bisa diatasi berkat kerjasama dan kekompakan penghuninya.

Sementara secara non fisik, tampak dari berbagai gempuran ideologi, keyakinan, budaya konsumerisme, hedonisme, yang kemudian menciptakan Indonesia seolah-olah berada di dunia maya. Ada tapi tak kelihatan.

Separatisme dalam bentuk penyebarluasan ideologi-ideologi baru selain Pancasila, sampai sekarang tetap menghantui.

Terkadang gerakannya tak muncul secara fisik, tapi ideologinya terus ditanamkan.

Tak mungkin masuk ke generasi tua, generasi muda jadi incaran.

Kewaspadaan dan selalu melakukan counter terhadap ideologi harus tanpa henti.

TNI dan Polri harus dan memang semestinya jadi ujung tombak menjaga ini.

Semua demi Indonesia, bukan segelintir orang atau golongan.

Dari penglihatan sekilas saya, setidaknya ada tiga kelompok generasi yang ada di Indonesia ini.

Pertama, generasi yang mengalami hidup di era orde lama dan orde baru sampai ke era sekarang.

Kedua, generasi yang mengalami hidup di era orde baru dan sekarang.

Ketiga, generasi milineal yang hidup di era reformasi, bahkan banyak yang lahir setelah 1990 akhir.

Pada generasi pertama dan kedua, saya sedikit menaruh harapan bahwa mereka masih memiliki kecintaan dan keterikatan kuat dengan Indonesia.

Setidaknya, level kebanggaan sebagai orang Indonesia masih sangat tebal.

Mereka masih bisa dengan bangganya menceritakan nostalgia semasa kecil, menceritakan tentang kebun dan sungai, keguyuban, gotong royong, berkisah tentang para pendiri bangsa.

Mereka adalah orang-orang yang tahu asam garamnya Indonesia.

Kalaupun kemudian ada di antara mereka yang berseberangan dengan pandangan pemerintah, mengkritik, bahkan ditangkap, bagi saya itu adalah riak-riak, bukti kecintaan pada Indonesia, bukan ingin menghancurkan Indonesia.

Sementara pada kelompok ketiga, kiranya kerisauan perlu ditekankan disini.

Kelompok inilah yang tidak mengalami pahit manisnya sejarah kehidupan berbangsa.

Generasi X sebutannya, generasi milineal istilah lainnya.

Merekalah yang hidup dalam gegap gempitanya teknologi informasi, hidup dalam dunia gadget, bergerak di dunia maya, cenderung individualistis.

Terhadap kelompok inilah, level kecintaan terhadap Indonesia perlu diciptakan program yang sistematis dan massif.

TNI-Polri sudah seharusnya memberikan perhatian lebih pada kelompok ini.

Khusus Polri, ada ruang lebih luas untuk masuk ke wilayah ini, karena aktifitas Polri berhubungan langsung ke sisi tersebut.

Tiga kelompok di atas, harus diakui juga ada pada kedua institusi keamanan negara, baik Polri maupun TNI.

Kunci pengelolaannya adalah pada pendidikan dan pembinaan secara berkelanjutan.

Pendidikan internal kedua lembaga, saya yakin sudah final dan sudah sangat OK.

Aspek pembinaan berkelanjutanlah yang menentukannya, apakah kemudian akan terombang ambing pada geliat politik atau tetap konsisten, ini yang akan menentukan.

Kosisten pada komitmen awal dan konsisten dengan masing-masing tupoksi harus jadi patokan.

Karena itu, bangga menjadi Indonesia, harus dimulai dengan fokus pada tupoksi masing-masing.

Jika ada kendala dalam pelaksanaan, maka sinergi antar lembaga akan jadi solusi.

Mungkin ada yang terkagum-kagum dengan negeri tetangga semacam Singapura, Malaysia, Brunei dan lainnya.

Mungkin banyak terpesona dengan kehidupan di Eropa, Amerika dan sebagainya.

Tetapi yakinlah, Indonesia (khususnya bagi saya) jauh lebih baik.

Dari sisi sumber daya alam, Indonesia jauh lebih unggul dan tak ada duanya, dari sisi keragaman penduduk, Indonesia nomor satu.

Pelangi itu ada di Indonesia, karunia Tuhan yang tak terbantahkan.

Ada yang beranggapan bahwa negara ini memang kaya, tapi salah urus. Bisa jadi argumen ini benar.

Tetapi itu bukan jadi alasan untuk mengatakan bahwa Indonesia tak perlu ada.

Bukankah pepatah sudah berkata, jika kusut benang di ujung, kembalilah ke pangkalnya.

Pangkal dari kehidupan bernegara adalah kesatuan dengan rakyat.

TNI-Polri adalah milik rakyat. Sinergi yang ada akan mampu membereskan kekusutan yang ada.

73 tahun Polri dan 74 tahun TNI di tahun ini, usia yang cukup untuk membangun dan memperkokoh ke Indonesiaan itu.

Syaratnya adalah, tanamkan kecintaan pada Indonesia sebagai darah daging.

Apapun tindakan kita adalah untuk Indonesia, dan jangan bakar rumah sendiri.

Selamat HUT Bhayangkara. Tetap sinergi, tetap Indonesia.(*)

Penulis: Emil Mahmud
Editor: Emil Mahmud
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved