Breaking News:

Kisah Masjid Raya Sumbar Tanpa Kubah, Jadi Perdebatan Alot hingga Campur Tangan Ridwan Kamil

Masjid Raya Sumatera Barat dibangun tanpa ada kubah. Ini sempat menjadi perdebatan, hingga akhirnya turut campur tangan Ridwan Kamil dalam desainya.

TribunPadang.com/Nadia Nazar
Masjid Raya Sumatera Barat berada di Jalan Khatib Sulaiman, Padang. 

Kemudian pembangunan masjid dimulai pada tahun 2008 menggunakan dana yang berasal dari APBN, APBD hingga sumbangan masyarakat.

"Dana yang tersedot hampir 300 miliar dari APBD. Sementara untuk taman dan parkir belakang  menggunakan dana APBN sebanyak 45 miliar," ungkap Yulius Said.

Yulius Said mengatakan, arsitek yang dipercaya untuk pembangunan masjid ialah Rizal Muslimin yang saat ini menjadi dosen di Sydney, Australia.

Sepuluh tahun proses pembangunan masjid selesai. Semua orang mengakui kehebatan dan kemegahan bangunan Masjid Raya Sumbar.

"Sekarang menjadi lima bangunan terantik di dunia. Jadi kebanggaan orang Sumbar dengan arsitektur yang mampu menarik wisatawan," kata Yulius Said.

Rute dan Jadwal Bus Gratis Dinas Pariwisata Padang, Berangkat 5 Kali di 9 Lokasi Keberangkatan

Menggambarkan Falsafah Minangkabau

Bentuk arsitektur Masjid Raya Sumbar memang menggambarkan falsafah Minangkabau: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (adat berdasarkan agama, agama berdasarkan kitab Allah.

Ketua Harian Masjid Raya Sumbar, Yulius Said menjelaskan, atap masjid tidak seperti rumah bagonjong dan tanduk kerbau.

Tetapi menggambarkan bentuk bentangan kain (sapu tangan segi empat) yang digunakan untuk mengusung batu Hajar Aswad.

"Sebelum Muhammad diangkat menjadi rasul, terjadi banjir besar di Mekah. Sehingga Hajar Aswad terlempar dari tempatnya.

Untuk meletakkan kembali batu tersebut ke tempat semula, ada empat kabilah suku Quraisy di Mekah berselisih pendapat, mengenai siapa yang berhak memindahkan batu Hajar Aswad ke tempat semula," jelas Yulius Said.

Nyaris Tak Pernah Ditinggalkan SBY, Begini Kondisi Ani Yudhoyono di RS Singapura, Bergantian Jaga

Kemudian Nabi Muhammad mengusulkan siapa yang paling dulu masuk Masjidil Haram di waktu Subuh, dialah yang berhak meletakkan Hajar Aswad ke tempat semula. Lalu keempat suku itu setuju.

"Ternyata yang paling awal datang justru Muhammad. Muhammad dengan kebijakannya, dia tak mau sendiri meletakan Hajar Aswad.

Lalu ia meletakkan batu Hajar Aswad di atas selembar kain sehingga dapat diusung bersama oleh perwakilan dari setiap kabilah dengan memegang masing-masing sudut kain.

Nah, keempat sudut itulah yang menjadi filosofi atap Masjid Raya Sumbar.

Kemudian, Minangkabau terkenal dengan gonjong, maka dibuat gonjong supaya tinggi sehingga Adat dan Syarak bersatu," sambung Yulius Said.

Ukiran-ukiran Minang melekat di dinding maupun atap Masjid Raya Sumbar.

Di dinding ada ukiran 'pucuak rabuang, itiak pulang patang, bintang enam, dan lain lain.(*)

Penulis: Rizka Desri Yusfita
Editor: Saridal Maijar
Sumber: Tribun Padang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved