Permintaan Trenggiling Selalu Tinggi Ternyata Untuk Pengobatan Tradisional China

Permintaan trenggiling selalu tinggi di Asia. Mulai dari sisiknya yang digunakan dalam pengobatan tradisional China

Permintaan Trenggiling Selalu Tinggi Ternyata Untuk Pengobatan Tradisional China
TRIBUN PEKANBARU/BUDI RAHMAT
Tim BBKSDA Riau melepasliarkan trenggiling hasil sitaan Bea Cukai Dumai. Sebanyak 86 ekor dilepasliarkan di kawasan Taman Nasional Zamrud Kabupaten Siak. 

TRIBUNPADANG.COM - Permintaan trenggiling selalu tinggi di Asia. Mulai dari sisiknya yang digunakan dalam pengobatan tradisional China, hingga dagingnya yang menjadi santapan mewah di Vietnam.

Di pusat rehabilitasi dekat Johanesburg, Afrika Selatan, sekelompok trenggiling sedang menjalani masa pemulihan.

Menurut Dr Karin Lourens, dokter satwa liar, kondisi mereka sangat buruk saat pertama diselamatkan dari perdagangan ilegal.

"Mereka tidak diberi makan selama sekitar 17 hari," ujarnya.

"Mereka dikurung di dalam tas, atau drum, atau kantong, dan dibiarkan begitu saja. Waktu kami terima mereka, mereka kurus kering, mengalami dehidrasi, dan segera membutuhkan perhatian medis," imbuh Dr Lourens.

Sisik trenggiling – terbuat dari keratin, yang juga ditemukan di kuku manusia – banyak diminati untuk pengobatan tradisional China.

Konon sisik tersebut bisa menyebuhkan radang sendi, meningkatkan produksi ASI, dan menjadi obat kuat untuk laki-laki. Namun, sebenarnya, tidak ada riset ilmiah yang mendukung kepercayaan ini.

"(Sisik trenggiling) jadi bagian dari budaya mereka dan digunakan dalam lebih dari 60 produk herbal China sebagai obat," kata Prof Ray Jansen dari African Pangolin Working Group.

Kelompok tersebut mencatat ada 19 ribu ton sisik trenggiling yang diperdagangkan secara ilegal dari Afrika pada tahun 2016; 47 ribu ton pada tahun 2017; dan 39 ribu ton pada tahun 2018.

"Ini hanya perdangangan yang berhasil kami gagalkan, hanya sekitar 10 persen dari keseluruhan perdangangan," tambah Prof. Ray. "Totalnya mendekati 390 ribu ton sisik tahun lalu," imbuhnya.

Halaman
12
Editor: Emil Mahmud
Sumber: Tribun Padang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved